TFN: Bentuk Kecintaan pada Lingkungan

12694869_1752889751601167_4132947520840982977_oBerawal dari kekhawatirannya terhadap isu tentang lingkungan terutama masalah sampah serta berbekal keterampilan melukis dan mendesain, Rizki Astriningtias memutuskan untuk menjalankan sebuah sosial project  yang dinamakan Tumbler For Nature, sebuah projek berbasis social-entrepreneurship yang mulai dijalankan di awal February 2016 ini. 

Social project ini bertujuan untuk:

  • Meningkatkan kesadaran dan kontribusi masyarakat untuk peduli sampah dan lingkungan.
  • Mencegah terjadinya bencana alam yang disebabkan oleh masalah sampah, seperti banjir.
  • Meningkatkan rasa berbagi di kalangan masyarakat melalui kebiasaan berdonasi
  • Merubah pola pikir masyarakat agar menerapkan green lifestyle. 

Alumni ICHYEP 2015 ini menjalankan program untuk menggalang dan melalui penjualan customized tumbler yang memiliki banyak disain atau berdasarkan pesanan. Melalui cara ini juga owner CikArt ini mengedukasi pemilik tumbler melalui selebaran yang dibagikan di dalam tumbler mengenai fakta-fakta sampah plastik yang merugikan lingkungan serta langkah-langkah preventif yang dapat dilakukan untuk lebih mencintai lingkungan serta memulai hidup dengan green lifestyle.

Sebagai project penggalangan dana, 30-40% keuntungan penjualan tumbler ini akan digunakan untuk kegiatan pendidikan peduli sampah di Bangka Belitung melalui kerjasama dengan beberapa komunitas pemuda peduli lingkungan di Bangka Belitung. Beberapa diantaranya adalah kerjasama yang dilakukan pada kegiatan HARLAH Himpunan  Pencinta Alam Pucuk Idat di Pantai Rebo, Sungailiat serta kerjasama yang dilakukan pada kegiatan Festival Gerhana Matahari Total (GMT) di Pantai Terentang Koba, Bangka Tengah Lalu.

Untuk sahabat yang ingin lebih tahu tentang projek sosial ini atau ingin melakukan kerjasama dapat berkunjung langsung ke media sosial Tumbler For Nature, ya.

Yuk, kita doakan bersama-sama agar projek ini dapat mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya untuk mendukung kegiatan edukatif peduli sampah di Bangka Belitung agar  daerah kita dapat lebih sehat, lebih bersih, dan lebih nyaman untuk ditinggali. Dan tentu saja jangan lupa berdonasi juga ya dengan cara membeli tumbler-nya Tumbler For Nature. Simple kan? Bersama Tumbler For Nature kita dukung gerakan-gerakan yang ramah lingkungan.

 

 

GEMAR INTRIK

GEMAR INTRIK atau Gerakan Mengajar Bahasa Inggris Tanpa Listrik adalah Post Program Activity alumni IMYEP 2015, Sapitra Gani.

Persiapan GEMAR INTRIK dimulai sejak November 2015 yang diawali dengan melakukan koordinasi langsung ke pihk sekolah, pendekatan dengan guru Bahasa Inggris, dan observasi secara langsung ke kelas.

Proyek ini dilaksanakan di SMPN 2 Simpang Katis, Bangka Tengah. Sekolah ini merupakan sebuah institusi pendidikan yang telah berdiri sejak tahun 2006 dan telah menorehkan berbagai prestasi hingga tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam berbagai event seperti Olimpiade Sains Nasional, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, dan Pramuka. Meskipun demikian, ada hal yang sangat memprihatinkan yang sampai hari ini masih belum teratasi yaitu ketiadaan aliran listrik dari PLN dengan alasan sekolah dibangun bukan dalam area pemukiman penduduk melainkan di area perkebunan dan bekas pertambangan. Hal inilah yang menginsprirasi Sapitra untuk melakukan proyek GEMAR INTRIK yang diharapkan menebar manfaat untuk siswa dan mengupayakan agar proyek ini mendapatkan perhatian pemerintah untuk dapat memberikan akses listrik.

GEMAR INTRIK menyasar pelajaran Bahasa Inggris dikarenakan setelah melakukan observasi, sebagian besar siswa memiliki keterbatasan pada pelajaran Bahasa Inggris serta background  akdemik Sapitra sebagai Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris sangat mendukung hal ini . Dikarenakan seluruh media pembelajaran multimedia tidak dapat digunakan sama sekali dan bahkan beberapa media-pun rusak tanpa digunakan seperti LCD Projector, televisi, tape recorder, dan komputer., maka delegasi Bangka Belitung yang berasal dari Desa Puput, Bangka Tengah ini memeilih menggunakan pembelajaran yang komunikatif, interaktif, dan mengacu pada pembelajaran audio visual melalui media pembelajaran seperti flash card, sort cards, index cards, dan word wall  yang tidak membutuhkan daya listrik.

Pada tanggal 8 Januari 2016 GEMAR INTRIK telah resmi dilaksanakan.  Program ini dilakukan seminggu sekali setiap Jumat siang selama kurang lebih 2 jam dan akan dilakukan sampai bulan Juli mendatang. Partisipan proyek ini adalah 35 siswa yang sedang menempuh pendidikan pada tahun pertama dan kedua yang terdiri dari 85 persen siswa perempuan, dan 15 persen siswa laki-laki. Pembelajaran-pun dilakukan secara bertahap dengan materi pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai sosial dan cara berpikir. Dalam proyek ini para siswa tidak hanya belajar Bahasa Inggris yang dikemas secara ringan dan menarik, tetapi juga dibiasakan untuk melakukan kerja sama, pembentukan karakter dan budi pekerti mulia, sikap empati dan kesetiakawanan, persaudaraan dan  public speaking. Selain itu juga, Alumni STAIN SAS Bangka Belitung Jurusan Tadris Bahasa Inggris ini selalu memberikan motivasi dengan memberikan hadiah-hadiah kecil yang berasal dari beberapa negara seperti USA, Jepang, Malaysia, dan Tiongkok serta beberapa provinsi di Indonesia berupa gantungan kunci, alat tulis dan postcards. Alhasil, di bulan ketiga pelaksanaan GEMAR INTRIK keceriaan, kemajuan, serta perbaikan sikap dari para peserta GEMAR INTRIK mulai dapat dirasakan.

Semoga proyek ini dapat berlangsung lancar dan berkesinambungan serta menginspirasi para pendidik yang mengajar dengan fasilitas yang sangat terbatas, ya.

 

Budidaya Ikan Lele: Sebuah Tahap Awal

wira7

Sekembalinya dari program IKYEP 2014, Wira Tri Barkah, delegasi terpilih Bangka Belitung 2014, mulai menjalankan Post Program Activity. Mahasiswa lulusan bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memilih program Wirausaha Ikan Lele dalam Pengembangan Potensi Perikanan Air Tawar Bangka Belitung sebagai PPA-nya yang sejalan dengan latar belakang pendidikannya.

Dirinya memilih melakukan program di bidang ini berawal dari keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan di Pulau Belitung khususnya yang terjadi karena pembukaan tambang liar yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut terjadi karena masih banyak masyarakat yang masih bergantung pada tambang timah, padahal Bangka Belitung memiliki potensi lain yang jauh lebih besar, yaitu perikanan. Sayangnya, mayoritas masyarakat Bangka Belitung hanya mengetahui potensi perikanan Bangka Belitung hanyalah ikan laut, sedangkan potensi perikanan air tawar masih belum difahami dan dilirik oleh masyarakat Bangka Belitung. Kondisi inilah yang kemudian mendorong pemuda Belitung ini untuk menjalankan program ini sebagai usaha awal pengembangan potensi perikanan air tawar di daerahnya sekaligus mengedukasi masyarakat tentang budidaya ikan lele.

Mengapa Ikan lele?

Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan berbagai olahan yang berasal dari ikan lele ini sangat banyak ditemukan di berbagai daerah, baik di desa maupun kota.Selain itu, budidaya Lele merupakan salah satu budidaya agribisnis yang perlu mendapat perhatian serius. Selain karena permintaan pasar untuk ikan lele sangat tinggi, baik untuk konsumsi nasional maupun ekspor, budidaya lele juga bisa dilakukan di lahan sempit dan yang terpenting tidak merusak lahan. Selain itu, budidaya ikan lele ini tergolong usaha yang relatif tidak sulit untuk dilaksanakan karena tidak memerlukan keterampilan khusus. Para pemula usaha budidaya ikan lele hanya perlu ketekunan dalam proses pemeliharaan. Apabila ketekunan itu telah mereka miliki, maka tidak akan sulit untuk belajar dan melakukan bisnis budidaya ikan lele.

Oleh karena itu, tujuan awal yang ingin dicapai melalui program ini adalah:

  • Pemuda memiliki keterampilan dalam usaha budidaya ikan lele yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
  • Membuka lapangan pekerjaan baru  bagi masyarakat setempat.
  • Membuka wawasan masyarakat terhadap potensi perikanan di provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Program ini mulai ia jalankan pada Februari 2015 hingga Mei 2015 lalu dengan memberdayakan 10 orang pemuda Karang Taruna Desa Pelepak Putih, Kec. Sijuk, Kabupaten Belitung.

Program ini diawali dengan sosialisasi kegiatan dan rekrutmen pemuda karang taruna serta pembagian modul budidaya ikan lele. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan kolam budidaya. Hal unik dalam fase ini adalah pemanfaatan kolam terpal sebagai kolam budidaya di atas lahan bekas tambang dengan  5 kolam berukuran 4×2 m setiap kolamnya, 3 kolam untuk penebaran awal, dan 2 kolam grading. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian air kolam yang diikuti dengan penebaran 3.000 ekor benih lele serta dilanjutkan dengan proses pemeliharaan kualitas air dan pembesaran ikan.

Selain disediakan kolam, benih dan pakan ikan, selama proyek dilakukan, para pemuda karang taruna yang terlibat juga mendapatkan pendampingan dalam proses usaha budidaya yang meliputi: diskusi tentang cara budidaya ikan yang baik, pembuatan pakan ikan, pengelolaan kualitas air, pembesaran, panen dan proses pemasaran ikan. Tentu saja Wira tak bekerja sendirian,  ia mendapatkan support dari Dinas Kelautan dan perikanan Kab. Belitung dan seorang tenaga penyuluh perikanan.

Pemeliharaan ikan lele dilakukan kurang lebih selama 3 bulan. Selama proses pemeliharaan, dilakukan evaluasi setiap minggunya sekaligus pembekalan atau sharing tentang ilmu-ilmu budidaya ikan lele. Dalam pembagian tugasnya Wira membagi ke 10 orang timnya menjadi 3 tim yang masing-masing beranggotakan 3 orang dan 1 orang sebagai ketua. Ia juga selalu melakukan koordinasi dengan ketua kelompok untuk mengontrol tiap-tiap anggotanya pada proses pemberian pakan ikan sebanyak 3 kali sehari, pergantian air sebanyak 1 minggu sekali, sampai dengan pemanenan ikan lele.

Ikan lele dipanen setelah berumur 3 bulan. Panen dilakukan secara parsial sebanyak 3 kali proses panen. Panen parsial dilakukan karena sebagian ikan lele tidak tumbuh besar bersamaan (seleksi alam), masih terdapat ikan lele yang belum masuk ukuran panen. Panen pertama ikan lele yaitu sebanyak 60 kg, panen kedua sebanyak 110 kg, dan panen ketiga sebanyak 120 kg. Total hasil panen budidaya ikan lele yaitu sebanyak 290 kg dengan harga ikan lele 23.000 rupiah/kg. Sehingga pendapatan yang didapatkan 6.670.000 rupiah dengan keuntungan per siklus 2.870.000 rupiah. Pendapatan yang didapatkan akan digunakan kembali untuk meningkatkan usaha budidaya ikan lele.

Karena keberhasilan ini pula-lah Program ini-pun telah mendapatkan sambutan hangat pada kegiatan Pre-Departure Training IKYEP 2015 lalu di Jakarta dan menjadi salah satu PPA yang dipresentasikan ketika itu.

Sebagai inisiator program ini, Wira berharap melalui pelatihan, pengalaman lapangan, dan ilmu yang ditransfer selama program, program ini dapat membantu dan memotivasi masyarakat terutama pemuda-pemuda di Desa Pelepak Putih agar dapat mandiri dalam melakukan budidaya ikan lele.

Yuk kita doakan bersama semoga program ini menjadi langkah awal bagi pemuda-pemuda Bangka Belitung untuk berwirausaha dan turut serta mengembangkan potensi perikanan yang ada.

Matras Olah Sampah

AYIM5Matras Olah Sampah adalah kegiatan paska program (Post Program Activity/PPA) yang dilakukan oleh Primalita Putri Distina, delegasi Babel di ICYEP 2014, pada bulan Juni 2015.

Berawal dari kekhawatirannya terhadap banyaknya sampah yang berserakan di sepanjang area pantai Matras serta desa Matras, Primalita akhirnya memutuskan untuk menjalankan Matras Olah Sampah (MOS) dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengolahan sampah yang efektif khususnya masyarakat yang ada di desa Matras, Sungailiat, Bangka.

Program MOS ini dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu:

  1. BBM/Bersih Bersih Matras.
  2. KOMPAS/Workshop Kompos Matras

Kegiatan pertama, BBM, dilakukan pada hari Minggu, 07 Juni 2015 di desa Matras. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan beberapa unsur seperti masyarakat Matras, pihak Kelurahan Matras, KOPHI Babel, Duta Lingkungan Hidup Pangkalpinang, mahasiswa-mahasiswa UBB & Polman serta pemuda setempat.

Pada kegiatan ini, partisipan kegiatan membersihkan wilayah desa Matras khususnya di area lapangan bola yang merupakan salah satu sarana publik yang krusial bagi masyarakat setempat. Selain membersihkan sampah di area tersebut, partisipan juga diajak memilah-milah sampah kedalam dua jenis; organik dan non organik.

Selanjutnya, Primalita melaksanakan kegiatan kedua yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan pertama, yaitu Workshop Kompos Matras/KOMPAS pada 14 Juni 2015. Kegiatan ini diikuti oleh banyak partisipan dari beberapa komunitas, seperti Kelompok Wanita Tani Matras, PKK Matras, Kelurahan Matras, Kurma Al-Fatih, PCMI Babel dan juga pemuda setempat. Pemateri pada kegiatan tahap dua ini adalah Iqal Zamzami dari Yayasan Sayang Babel Kita. Workshop ini-pun dilengkapi dengan  praktek langsung membuat kompos yang kemudian dilanjutkan dengan pembagian 300 bibit Kakao kepada masyarakat Desa Matras dari Yayasan Sayang Babel Kite.

Melalui rangkaian program ini, Primalita berharap masyarakat dapat lebih memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan terlebih lagi desa Matras merupakan kawasan wisata yang selalu dikunjungi masyarakat.

Saat ini, dirinya sedang merancang beberapa rencana untuk melanjutkan PPA-nya agar dapat lebih berkesinambungan dengan melibatkan beberapa komunitas yang fokus kepada penanganan sampah dan kebersihan lingkungan di Bangka.

Pendidikan PHBS

 From Bangka Belitung to East Kalimantan With Love

Post Program Activity (PPA) merupakan bukti dari sebuah komitmen serius para delegasi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) yang sejak tahun 2014 PPA menjadi suatu program wajib yang harus dilaksanakan oleh para delegasi terpilih dari tiap-tiap daerah segera setelah purna dari program yang diikuti. PPA yang juga merupakan salah satu penilaian dalam tahap seleksi PPAN di masing-masing daerah harus dilaksanakan sesuai dengan timeline yang diajukan delegasi dalam proposal PPA mereka. 
Pada tahun ini salah satu delegasi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr. Yudi Pranata, telah merampungkan PPAnya beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya sebagai delegasi SSEAYP Yudi telah melakukan PPA group langsung setelah program selesai. Hal tersebut dikarenakan untuk program SSEAYP, PPA dibedakan menjadi 2 term, yaitu short-term (jangka pendek) dan long-term(Jangka panjang). Perbedaan antara kedua nya adalah short-term hanya dilakukan selama satu hari secara bersama oleh para delegasi dan alumni di satu tempat yang telah ditentukan, sedangkan long-term dilakukan oleh masing-masing delegasi secara individu di masing-masing daerah (provinsi asal). Adapun tema PPA short-term dan long-term yang dipilih Garuda41 (para IPYs SSEAYP 2014) adalah pemilahan dan pemanfaatan sampah.

PPA Short-term Garuda41 telah dilakukan sekembalinya para delegasi ke Indonesia pada  21 Desember 2014 lalu. Bertempat di Kelurahan Manggarai, Jakarta pusat, kegiatan ini berlangsung sejak pukul 7 pagi hingga 12 siang. Ada lebih dari 120 anak dan orang tua yang mengikuti kegiatan ini. Isi kegiatan adalah mengajarkan anak-anak tentang memilah sampah organik dan non-organik. Para orang tua diajarkan mengkreasikan  kantong plastik bekas menjadi bunga, menganyam sachet plastik bekas menjadi pita serta cara membuat kompos dari limbah rumah tangga. Di akhir kegiatan para delegasi Garuda41 menampilkan tarian Liko’ Pulo yang sebelumnya juga pernah dibawakan saat National Presentation di Kapal Ms. Nippon Maru.
Kemudian, di akhir bulan Januari lalu dokter muda ini mendapatkan penempatan sebagai dokter internship di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Hal ini sempat menjadi hambatan untuk melakukan long termnya di provinsi Bangka Belitung, sehingga ia pada akhirnya memutuskan untuk melaksanakan PPA di tempatnya bekerja dengan pertimbangan tambahan bahwa Kalimantan Timur sendiri tidak memiliki wakil di SSEAYP 2014. Maka, ketika pada akhir bulan Februari ia berangkat ke Kalimantan Timur ditambah lagi dengan penetapan bahwa untuk 4 bulan pertama Yudi ditempatkan di Puskesmas Pasir Belengkong, tercetuslah ide untuk menyertakan PPA long term yang ia rencanakan menjadi salah satu program Puskesmas Pasir Belangkong tahun ini.
Untungnya, dikarenakan salah satu usaha peningkatan kesehatan masyarakat di Puskesmas adalah upaya preventif (pencegahan) terhadap penyakit maka Puskesmas yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan berkewajiban untuk melakukan upaya tersebut terhadap seluruh masyakarat dengan berbagai tingkatan umur, termasuk anak usia sekolah. Mengingat Post Program Activity (PPA) Garuda41 terkait pilah dan buang sampah sementara Garuda40 terkait gerakan mencuci tangan, maka ia mencoba memasukkan 2 PPA tersebut dalam program Puskesmas Pasir Belangkong yaitu pada program pendidikan PHBS di sekolah.
            Pendidikan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di sekolah merupakan langkah dasar dalam menanamkan pola hidup yang bersih dan sehat sejak dini. Hal tersebut meliputi 8 point, yaitu:
  1. Gerakan mencuci tangan pakai sabun
  2. Jajan di kantin yang bersih dan sehat
  3. Rutin berolah raga
  4. Pilah dan buang sampah pada tempatnya
  5. Timbang berat badan dan tinggi badan
  6. BAB dan BAK di jamban
  7. Bersih dari jentik nyamuk
  8. Katakan tidak pada rokok.
            Maka, kegiatan PPA tersebut di lakukan di 23 sekolah setingkat Taman Kanank-kanak hingga SMA/MA yang berada di wilayah kecamatan Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur. Hingga tanggal 07 April 2015, kegiatan tersebut telah dilakukan di 15 sekolah dengan total peserta 357 siswa/i. Dalam  program tersebut dilakukan beberapa kegiatan berupa pemaparan/presentasi/penyuluhan yang disertai praktek langsung seperti cara membedakan sampah organik dan non-organik serta 7 langkah mencuci tangan dengan sabun. 
            Untuk pemilahan sampah, siswa/i diajarkan cara membedakan antara sampah organik dan non-organik serta mengenal pemanfaatan tiap jenis sampah tersebut. Siswa juga diajarkan btentang kesadaran akan bahaya sampah yang tidak tertangani dengan baik dan akibatnya bagi kesehatan. Dalam peragaan 7 langkah cuci tangan pakai sabun, siswa diingatkan kapan saja waktu untuk mencuci tangan, cara mencuci tangan yang benar serta penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh kebersihan tangan yang buruk. Kedua rangkaian kegiatan di atas diikuti dengan sangat antusias oleh para siswa.
           Sementara itu, bagi Yudi sendiri pelaksanaan PPA ini merupakan sebuah perjuangan tersendiri  terutama jika menyangkut  akses menuju sekolah di tiap desa yang sangat variatif. Terkadang sekolah tujuan dapat ditempuh dalam waktu singkat melalui jalan yang beraspal namun kadang perjalanan membutuhkan waktu tempuh hingga 2 jam dengan melalui jalan berlubang, bergelombang dan tidak beraspal. Bahkan, karena belum terbiasa dengan medan tempuh seperti itu, ia sempat mabuk kendaraan saat kunjungan pertama. Untungnya, di setiap kegiatan yang ia lakukan selalu difasilitasi ambulance dari Puskesmas, alat bantu/media presentasi serta pendampingan oleh staff/perawat Puskesmas.   
Setelah sukses dengan pelaksanaan PPA di belasan sekolah tersebut, di masa yang akan datang, kegiatan ini akan dijadikan program tahunan Puskesmas Pasir Belengkong dengan bantuan pendanaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Paser. Tentu saja, sebagai isiator dan pelaksana, ia berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya anak-anak. 
Well, ini adalah salah satu bentuk pengabdian para delegasi setelah program usai, pengabdian dari delegasi Bangka Belitung untuk Kalimantan Timur dengan penuh cinta. Salut!