PCMI Babel Peduli Banjir Bangka

Musibah banjir yang melanda Pulau Bangka pada tanggal 8 sampai dengan 10 Februari lalu merupakan banjir terbesar di pulau Bangka dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Banjir mengakibatkan pusat kota Pangkalpinang lumpuh total selama beberapa hari bahkan beberapa akses jalan di beberapa daerah di kapubaten Bangka Tengah dan Bangka Barat terputus selama beberapa waktu. Ribuan korban banjir terpaksa mengungsi ke beberapa posko pengungsian karena banjir yang   mencapai 2 meter menenggelamkan ratusan rumah di berbagai daerah, bahkan saat ini beberapa akses jalan yang terputus masih dalam tahap perbaikan.

Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Bangka Belitung sejak awal telah berbaur dengan komunitas kepemudaaan lainnya di Pangkalpinang untuk membantu di beberapa posko banjir untuk menyalurkan bantuan kepada para korban banjir.

Selanjutnya pada Tanggal 11 Februari, PCMI Babel bekerjasama dengan Purna Paskibraka Indonesia Bangka Belitung serta Gerakan Babel Mendunia melakukan aksi bersih-bersih pasca banjir #MutikSampah yang juga turut didukung Badan Lingkungan Hidup Prop. Kep. Bangka Belitung. Aksi gotong royong ini dilakukan di beberapa titik vital Kota Pangkalpinang yang terkena dampak parah dari musibah banjir.

Aksi #MutikSampah ini kemudian dilanjutkan dnegan aksi kedua pada tanggal 13 Februari yang kali ini dikoordinir oleh teman-teman Purna Paskibraka Indonesia Bangka Belitung yang juga turut melibatkan kurang lebih 70 anggota paskibra dari beberapa sekolah menengah di Kota Pangkalpinang. Kali ini daerah yang dijadikan tujuan aksi gotong royong adalah  area Pasar Besar Kota Pangkalpinang.

Selain aksi gotong royong, PCMI Babel juga melakukan aksi penggalangan dana #PCMIBabelPeduliBanjir selama beberapa waktu yang digerilyakan melalui media sosial. Selain mendapatkan donasi dari masyarakat umum melalui rekening penyaluran di kitabisa.com dan rekening Koordinator PCMI Babel, PCMI Babel juga menerima donasi dari Hand For Haze (Alumni Pertukaran Pemuda Indonesia Tiongkok) dan Awardee LPDP ITB. Donasi yang terkumpul disalurkan kepada 7 keluarga korban banjir dengan kerusakan terparah di Desa Puput, Kab. Bangka Tengah  (salah satu daerah yang terkena dampak parah musibah banjir tersebut) dalam bentuk bantuan bahan bangunan berupa 1500 buah batako dan 15 sak semen. Sementara sisa dana donasi  direncanakan akan disalurkan dalam bentuk bantuan alat tulis kepada beberapa pelajar asal desa Puput.

PCMI Babel tentu saja mengucapkan syukur dan ribuan rasa terimakasih kepada seluruh donatur yang tak bisa disebutkan satu persatu atas keikhlasannya meringankan beban para korban banjir di Pulau Bangka. Semoga bantuan para Bapak/Ibu dan teman-teman donatur  berbuah pahala di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin.

 

Tips: Sukses Seleksi PPAN, Bagaimana? (Part 1)

Oleh: Edwinnata Bustami

Flyer credit to Bella Baroqah*

Sejak dari satu bulan lalu hingga saat ini PCMI seluruh Indonesia masih gencar-gencarnya mempromosikan Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2014. Dalam seleksi ini tentu terdapat kompetisi. Pasti ada banyak diantara kamu yang pernah mengikuti kompetisi olimpiade sains atau lomba cerdas cermat di bangku sekolah atau di universitas atau perguruan tinggi dulu. Dalam lomba-lomba sejenis ini, kamu haruslah pintar menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Siapa yang paling banyak menjawab pertanyaan dengan benar, lalu mendapat skor tertinggi maka dia-lah yang menang.

Sayangnya, itu tak terjadi di seleksi PPAN ini. Seleksi ini bukan sekedar tentang kepiawaian menjawab pertanyaan lalu menjadi pemenang. Sekedar pintar, berwawasan luas, prestatif, aktif organisasi, bahasa Inggris cas cis cus, tidak cukup untuk meloloskan diri kamu dalam seleksi ini. Jika penyelenggara seleksi ini sekedar menderetkan nilai atau skor yang diperoleh peserta dari tes-tes yang ada seperti Bahasa Inggris, psiko tes dll, maka siapapun bisa melakukannya, tak perlu PCMI, tak perlu seleksi nasional, tak perlu PDT, tak perlu KEMENPORA RI memantau, tak perlu ada rakor nasional yang membahas PPAN. Seleksi ini sepertinya lebih rumit dari itu.

Melalui seleksi ini, someone’s life is going to change. Karena tugas ini tak sederhana, maka alumni program yang ditunjuk oleh pemerintah melalui KEMENPORA RI atau/dan Dispora, akan membantu para peserta untuk menggali potensi dan mengeksplor kepribadian mereka dalam seleksi PPAN. Alumni program itu they have been there and know every single things about it. Maka yang dicari bukan hanya yang paling hebat dan terpintar, melainkan pemuda yang pas untuk setiap program yang tentunya memenuhi kriteria. Yang perlu kamu ketahui adalah para alumni atau komite bukan judge melainkan orang yang lebih dahulu ikut program lalu membantumu untuk mengeksplor diri selama seleksi. Para alumni ini tak hanya sendiri, mereka didampingi oleh para professional yang menangani psiko tes dan tes Bahasa Inggris. Dua pihak ini bersama Dispora Propinsi akan merundingkan nominasi kandidat terpilih bersama-sama.
Nah, pada kesempatan kali ini, PCMI Babel ingin berbagi beberapa hal penting agar bisa membantu persiapan kamu mengikuti seleksi PPAN Babel.

LURUSKAN NIAT

Meluruskan niat adalah hal yang pertama yang harus dilakukan. Niatkan untuk ibadah karena Tuhan YME. Dalam setiap kompetisi, setiap peserta hendaknya menyadari sepenuhnya bahwa hal itu bukan lah sesempit urusan menjadi pemenang. Ada banyak hal-hal positif yang mungkin bisa kamu dapatkan seperti silaturahmi dengan mendapat teman baru dan memperoleh pengalaman baru dari setiap peserta yang ditemui dalam proses seleksi. Dengan niat tersebut segala aktivitas yang kamu lakukan akan memberikan feedback positif untuk hidup kamu. Yakinlah bahwa niat yang lurus pula seakan memudahan berbagai kesulitan yang akan dihadapi nanti.

MENCARI INFORMASI dan MEMPERSIAPKAN BERKAS

Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang program dari internet dan alumni. Informasi program bukan sekedar negara yang dikunjungi, namun juga konten program. PPAN tak melulu soal negara yang akan dikunjungi, melainkan juga komposisi program masing-masing. Hal ini akan memudahkan kamu mengetahui kesesuaian program dengan potensi diri dan passionmu, sehingga ketika seleksi kamu sudah memiliki gambaran memadai tentang hal-hal yang harusnya dapat dioptimalkan.
Update juga informasi pendaftaran dan catat deadlinenya. Jangan menunda-nunda untuk mempersiapkan berkas dan mengisi form. Jika dilakukan dengan semangat, maka kamu tak memerlukan waktu satu jam untuk mengisi form aplikasi.

MENULIS ESAI 


Bagian ini salah satu yang terpenting. Menulis esai tak jauh berbeda dengan bercerita tentang diri kamu pada seorang teman. Di sini, komite seleksi memberimu kesempatan untuk menjelaskan latar belakangmu mulai dari riwayat pendidikan, kepribadian, potensi dan prestasi yang kamu miliki. Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan dalam penulisan esai adalah, kebanyakan applicants akan menulis 100 persen hanya tentang kelebihannya. Namun demikian bukan berarti juga harus memuat seluruh keburukan kamu koq. Di sini, kamu juga bisa menjelaskan hal-hal yang masih perlu dikembangkan lagi dalam dirimu dan hal tersebut dapat dikembangkan menjadi salah satu alasan kamu ingin ikut program ini. Di seleksi PPAN ini alasan seseorang direkomendasikan, tidak melulu karena kelebihan dan kehebatannya loh, tapi bisa juga seseorang dipilih setelah komite tahu ada potensi dalam dirinya yang masih perlu ditingkatkan, dan PPAN menjadi salah satu tempat yang layak dan pas baginya untuk berkembang.

SELEKSI TAHAP DUA
Setelah seleksi administrasi, biasanya ada tahapan seleksi lanjutan sebelum ke final. Namun dalam kondisi tertentu tahapan ini bisa dihilangkan. Jika diadakan, peserta akan diberikan tugas, misalnya membuat karya tulis, portofolio atau project plan. Tipsnya adalah mengikuti instruksi yang diberikan komite terkait tugas tersebut. Selain itu penting untuk meninjau ulang tugas yang telah dibuat. Jika itu dalam bentuk karya tulis maka, sisakan waktu 1 hari sebelum mengumpulkan, agar bisa memeriksa kembali konten dan penulisannya, bahasa kerennya disebut editing . Biasanya pada saat memeriksa kembali, kamu akan mendapat ide untuk menyempurnakan tulisanmu.

Di bagian ini, komite seleksi akan membagi tugas menjadi dua tim yakni tim administrasi (admin) dan tim penilai. Tim admin akan mensortir file karya tulis peserta. Mereka akan menghapus nama peserta yang tertera dalam file karya tulis tersebut dan menggatinya hanya dengan nomor urut peserta. Rekapan karya tulis ini selanjutnya diperiksa oleh tim penilai. Tim penilai tidak akan bisa mengenali pemilik karya tulis karena hanya tertera nomor urut setelah namanya dihapuskan oleh tim admin. Skor yang didapat dari tim penilai akan diberikan pada tim admin untuk kemudian disesuaikan dengan data nomor dan nama peserta pada tim admin saat mengkalkulasi skor. Tujuanya adalah membuat seleksi semakin kompetitif.

SELEKSI AKHIR


Jika lulus seleksi tahap dua, para peserta akan diundang pada seleksi akhir yang diselenggarakan 2 hingga 3 hari di Pangkalpinang. Untuk Prop. Kep Babel tahap akhir seleksi PPAN akan diadakan bersamaan pada April nanti. Di sini -lah kamu diberikan kesempatan untuk mengeksplor diri kamu melalui beberapa aktifitas berikut:

1. FOKUS GRUP DISKUSI

Penting bagi kamu mengupgrade wawasan tentang isu-isu aktual yang sedang terjadi. Dalam FGD biasanya peserta akan diberi studi kasus yang diambil dari isu daerah, nasional ataupun internasional. Misal pada tahun lalu FGD mengangkat topik tentang Kapal Hisap, Miss World dan Nuclear Power Plan. Di dalam FGD, kamu diberikan kesempatan untuk: a) berdiskusi dalam kelompok, b) menjelaskan pengetahuanmu tentang isu tersebut, c) menyampaikan pendapatmu tentang isu tersebut dan merespon pendapat lain, d) menjadi pendengar yang baik dan saling menghormati/respect.

2. MENGHADAPI INTERVIEW

Interview adalah bagian yang mungkin bisa menjadi momen menegangkan bagi peserta. Interview ini melibatkan anggota komite yang terdiri dari beberapa orang. Melalui interview ini, komite akan langsung berinteraksi dengan peserta dan menggali lebih dalam kepribadian, cara berkomunikasi dan potensinya. Biasanya tekanan di interview ini sangat lah besar. Bahkan di beberapa propinsi ada cerita peserta yang sampai menangis setelah keluar dari ruang interview dan hal tersebut beebrapa kali terjadi pula di seleksi PPAN Babel. MENGERIKAN? Belum tentu.

Tekanan yang mungkin kamu rasakan dari komite melalui serbuan pertanyaan, ditambah dengan intonasi bertanya yang mungkin beragam, akan membuat kamu merespon. Respon tersebut akan menjadi tolak ukur bagi komite untuk melihat lebih dalam bagaimana kamu merespon situasi dalam tekanan. Tekanan yang mungkin kamu rasakan di seleksi itu belum ada apa-apanya dibanding dengan tekanan yang mungkin akan dirasakan jika kamu terpilih dan manjalankan persiapan program. Contohnya di SSEAYP saja, setelah terpilih para kandidat akan menjalani beberapa training dimulai dari training regional, training SII-alumni, training persiapan PDT, dan PDT (Pre-Derparture Training). Jika diinterview saja kamu sudah merasa tertekan, komite akan berfikir bagaimana bisa kamu layak dipilih untuk ikut program dengan persiapannya yang tak sedikit dan sederhana itu.

Tips untuk menghadapi interview adalah 1). Pelajari kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan. Biasanya pertanyaan adalah seputar apa yang kamu utarakan dalam esai dan formulir aplikasi. Maka jangan ragu untuk mulai latihan atau melakukan rekonstruksi di depan cermin untuk menjwab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul itu. 2). Tak hanya kata-kata, intonasi dan mimik muka juga menjadi hal yang penting dalam interview. Biar ga nervous, buat suasana menjadi santai dengan mengobrol dengan peserta lain dan melakukan aktifitas yang membahagiakan sebelum masuk ke ruang interview.

(to be continued)
*Penulis adalah Alumni SSEAYP 2011

Shinkansen, Sang Kereta Peluru (Part 1)


Oleh: Edwinnata Bustami

Apakah kamu tahu kalau di dunia ini ada kereta yang melaju tanpa menyentuh bumi? Yup! Kereta itu adalah Shinkansen. Shinkansen atau yang juga dikenal sebagai kereta peluru adalah kereta tercepat yang pernah ditemukan oleh Jepang beberapa tahun silam. Dengan memanfaatkan gaya magnet, kereta ini melaju tanpa menyentuh rel alias mengambang di udara karena terjadi gaya tolak menolak antara kereta dan rel. Hal ini-lah yang membuat Shinkansen bisa melaju dengan kecepatan maksimal mencapai 300km/jam. Dengan Shinkansen, jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu tak lebih dari 4 jam. Meski begitu cepat, minimnya gesekanyang terjadi membuat siapapun yang berada di dalamnya akan tetap merasa nyaman tanpa ada goncangan atau pun suara gesekan mesin yang biasanya terjadi pada kereta commuter line di Jabodetabek.

Sejak pertama kali melihat berita Shinkasen di TV, sebagai pencinta sains dan teknologi, saya terkagum-kagum dan penasaran. Saya benar-benar penasaran. Hebat betul orang Jepang ini bikin teknologi kereta mengambang di udara seperti ini. Kira-kira bagaimana ya rasanya berada di kereta dengan kecepatan 300km/jam?”, begitu fikiran saya kala itu.
Dalam hidup yang singkat dan tak tahu akan berakhir kapan, saya sering termotivasi dengan penemuan-penemuan sains dan teknologi.  Tuhan,melalui tangan-tangan ilmuan di Jepang, telah menciptakan sesuatu yang sekeren Shinkansen. Sayang sekali bila kita tidak menjadi bagian dari ciptaanNya itu. Jika kita tidak bisa menjadi bagian dari ilmuan yang menemukan Shinnkansen, maka kita masih bisa menjadi bagian dalam bentuk lain, yakni pengguna penemuan itu. Saya ingin naik Shinkansen!
Mungkin saya tak sekreatif para ilmuan yang menemukan inovasi Shinkansen, tapi penemuan tersebut harus memaksa saya menjadi kreatif. Impian untuk naik Shinkansen, membuat saya kreatif untuk berusaha mewujudkannya. Tak butuh waktu terlalu lama, kira-kira 3 tahun setelah saya pertama kali mendengar berita Shinkansen itu, impian saya sudah sangat dekat dengan kenyataan. Saat itu, saya sedikit tidak percaya jika saya sedang berada di Stasiun Tokyo, stasiun terbesar dan tersibuk di Jepang. Sementara itu, di depan saya terdapt lintasan Shinkansen yang melayani rute ke beberapa kota di Pulau Honsu.
Beberapa Shinkansen dengan bentuk dan kombinasi cat yang keren sudah berjejer menunggu penumpang masuk.  Saya tiba-tiba juga merasa keren sebagai anak kampung yangakan menaiki salah satu dari Shinkansen itu. Lebih keren lagi, saat itu saya tidak berpergian sendiri melainkan bersama 28 pemuda pilihan dari Jepang dan negara anggota ASEAN.
Tiga puluh pemuda ini tergabung dalam satu kelompok Solidarity Grup atau SG. Selain kami, masih ada 9 SG lainnya yang kira-kira melakukan hal yang sama, berkumpul menunggu keberangkatan ke salah satu Perfecture di Jepang. Masing-masing SG dinamai dengan alfabets dari A sampai K, dan SG kami adalah SG J. SG J akan bertolak ke Perfecture Kobe untuk mengikuti agenda Country Program di Jepang. Di sana kami akan tinggal selama 5 hari. Melengkapi kekerenan ini, kami yang dikelompokan ke dalam 11 SG ini adalah Young Ambassador of Good Will dalam The 38th Ship for Southeast Asian Youth Program (SSEAYP). Kami adalah Duta Muda pembawa misi persahabatan antara Jepang dan negara anggota ASEAN.
“PY’s, please proceed to train!” seorang admin memberi pengumuman. Admin adalah sebutan untuk panitia yang ditunjuk Pemerintah Jepang sebagai penyelenggara SSEAYP. Jumlahnya kira-kira 35  orang. Oleh para Admin ini, para peserta SSEAYP dinamai Participating Youth atau disingkat PYs.
“Ini toh yang namanya Shinkansen, apik tenan rek!” Amel dengan medok Jawa Timurnya terkagum-kagum ketika menginjakkan langkah pertamanya di dalam kabin.
“Dwin, Dwin, duduk di sini aja, biar nanti bisa ngeliat Gunung Fuji” Dara meraih tangan kanan saya.
Kerennya lagi, tempat duduk dalam Shinkansen ini bisa diatur berhadap-hadapan antara dua row kursi. Satu row bisa diisi tiga orang. Di sebelah saya ada Dara yang duduk di sisi jendela, berhadapan dengan Amel. Saya dan dua gadis cantik itu sama-sama tergabung dalam Kontingen Indonesia. Di jajaran kursi kami juga duduk seorang Japan PYs bernama Sakura, Singapore PYs bernama Ant dan Vietnam PYs bernama Cherry. Detik-detik awal perjalanan menuju Kobe dengan Shinkansen pun dimulai.
(to be continued)

*Penulis adalah delegasi SSEAYP 2011

Belajar Sampai ke Cina

Oleh: Mohammad Fadhillah

     “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, begitu kata pepatah arab yang tidak asing bagi saya. Awalnya mungkin hanya sekadar impian namun tanpa saya duga ternyata kesempatan pun itu datang. Saya mengikuti seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2013 dan terpilih menjadi salah satu peserta Pertukaran Pemuda Indonesia-Cina dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga sekaligus menjadi delegasi yang mewakili Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam acara tersebut.
     Program tersebut diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan Federasi Seluruh Pemuda Cina (All China Youth Federation). Pada program ini, pemerintah Cina mengundang 100 pemuda Indonesia untuk mengunjungi Cina dari 31 Agustus sampai 9 September 2013 lalu.
  Sebelum bertolak ke Cina, semua peserta program termasuk saya mengikuti pelatihan sebelum keberangkatan (pre-departure training) pada 28-30 Agustus 2013 yang dibuka secara resmi oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, Bapak Roy Suryo. Pada kesempatan itu kami diberikan materi singkat terkait tujuan program, hubungan diplomatik Indonesia-Cina, serta wawasan-wawasan tentang Cina. Satu hal yang baru saya tahu bahwa ternyata khusus dalam bidang diplomatik, Indonesia tidak menggunakan kata Cina untuk menyebut negara Cina, melainkan Republik Rakyat Tiongkok. Namun, dalam bidang-bidang lainnya seperti ekonomi, perdagangan, budaya dan bidang lainnya istilah Cina umum digunakan.
     Kami berangkat ke Cina pada 30 Agustus 2013 dan tampaknya semua peserta tidak sabar untuk segera sampai ke Cina dan Beijing adalah kota pertama yang kami kunjungi di Cina.
     Beijing yang  merupakan Ibu kota negara adalah salah satu kota terpadat di dunia. Di kota ini, kami mengunjungi Museum Perencanaan Kota Beijing, Museum Nasional Cina, Tembok Besar Cina (The GreatWall), Kota Terlarang dan Pusat Multimedia Liga Pemuda Komunis Cina serta beberapa komunitas lainnya. Di Museum Perencanaan Kota Beijing kami diperkenalkan sejarah Kota Beijing dari zaman kekaisaran awal Cina sampai zaman modern serta perencanaan kota ini di masa mendatang. Kami dipertunjukkan tayangan singkat berdurasi 10 menit mengenai sejarah kota Beijing 3000 tahun yang lalu sebagai kota dan 850 tahun yang lalu sebagai ibukota Cina. Selain itu, tayangan lain juga memperkenalkan perencanaan kota Beijing dari tahun 2004 hingga 2020. Beijing merupakan kota dengan luas wilayah 16.807,8 km2 namun hanya sekitar 38 % berupa wilayah yang datar selebihnya merupakan wilayah pegunungan. Selain itu, kota ini merupakan kota kedua yang memiliki populasi terbanyak di Cina setelah Shanghai, dengan jumlah penduduk 20,6 juta jiwa pada tahun 2012. Dengan kondisi demikian, Beijing merupakan kota terpenting di Cina yang memerlukan perencanaan pembangunan yang baik di masa mendatang. Beijing akan dibangun tidak hanya menjadi kota metropolitan di Cina, namun menjadi kota yang ramah lingkungan dan tetap layak untuk dihidupi oleh rakyat Cina.
     Kota berikutnya adalah Hefei dan Wuhu di Provinsi Anhui. Di kota tersebut kami berkesempatan berdiskusi dengan mahasiswa di Universitas Anhui lalu berkunjung ke Museum Provinsi Anhui. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi perusahaan iFLYTEK yang bergerak di bidang teknologi suara. Produk dari perusahaan tersebut sudah banyak digunakan pada perangkat ponsel dan mobil di Cina. Perusahaan lain yang kami kunjungi adalah Chery Automobile yang bergerak di bidang otomotif khususnya kendaraan mobil.
     Lalu, kota terakhir kami singgahi adalah Guang Zhou. Di kota ini, kami diajak untuk melihat aktivitas anak-anak di Istana Anak ke-2 di Guang Zhou. Aktivitas anak-anak di tempat ini sangat beragam, tergantung kelas yang mereka pilih. Ada kelas kung fu, musik, tari dan lainnya. Tidak lupa pula, di kota terakhir ini kami juga diajak untuk mengunjungi museum kebanggaan provinsi Guang Zhou.
     Ada beberapa hal yang mungkin dapat saya ambil pelajaran dari program ini yang diantaranya adalah kesimpulan tentang Cina yang merupakan negara dengan sejarah dan peradaban yang panjang. Peninggalan sejarah dan kebudayaan merupakan aset penting suatu negara dan itu diperlihatkan oleh Cina dengan kesungguhan dalam pengelolaannya. Dari beberapa musem yang kami kunjungi, saya selalu menemukan kemegahan dan kerapihan dalam tiap sisinya. Tidak ada kesan “jadul” (baca: zaman dulu) di museum-museum tersebut karena dipadu dengan berbagai teknologi informasi dan animasi modern yang melengkapi setiap museumnya. Rasanya, sebagian besar sejarah bangsa mereka sudah tersimpan baik dan dapat kembali dipelajari dengan mudah oleh generasi-generasi selanjutnya. Disanping itu, saya belajar bahwa Cina juga termasuk negara yang memiliki perhatian dengan teknologi. Hal ini terlihat dari teknologi transportasi dan komunikasi yang ada seperti kereta cepat Cina dan perusahaan mobil nasional.
     Di sisi lain, saya juga kagum dengan kegiatan kepemudaan di Cina. Cina memiliki perhatian yang baik terhadap generasi mudanya baik pemuda maupun anak-anak. Pemuda Komunis di Cina memiliki kantor pusat multimedia yang mengelola berbagai website antara lain website anak-anak seperti youth.cn dan k618.cn. Kedua situs tersebut memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan seputar kepemudaan dan anak-anak. Karena itu, jika dilihat dari kondisi tempat dan fasilitas pusat informasi ini, Cina sangat memberikan perhatian besar terhadap anak-anak dan pemuda. Pemerintah Cina berusaha memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan jenjang umur generasi mudanya. Fasilitas yang lengkap membuat pengelolaan pusat informasi dan multimedia ini sangat profesional, oleh karenanya  output berupa informasi-informasi yang dihasilkan juga sangat baik.
     Saat ini, tak dipungkiri, Cina memang negara yang besar bukan hanya dari jumlah penduduk, peradaban, namun juga di bidang ekonomi dan perdagangan. Cina juga merupakan salah satu negara yang mempunyai hubungan erat dengan Indonesia dalam bidang ekonomi, budaya, dan sejarah. Tak heran jika di abad 21 ini, Cina terlihat semakin mengokohkan dirinya menjadi satu kekuatan ekonomi dan politik baru di dunia.
Akhirnya, bagi saya belajar memang bisa didapatkan dari banyak hal dan saya juga belajar banyak hal dari sebuah negara berna Republik Rakyat Cina.
*Penulis adalah Delegasi PPIC 2013

Tentang Haechi, Hanji dan Hanok serta Hanbok

Oleh: Dio Andespa Putrika Dewi

Korea Selatan: K-pop wave, K-drama???

 Bagi saya yang bukan pencinta K-pop dan tidak terlalu menggandrungi K-drama, Daehan Minguk adalah sebuah negara kecil yang berhasil menyandingkan nilai budaya dan sejarah lokal klasik dengan moderenitas berteknologi tinggi hingga kemudian dikenal luas di dunia saat ini. Maka, dalam pandangan saya K-pop dan K-drama hanyalah dua jenis media yang digunakan untuk lebih mengenalkan Korea Selatan ke dunia internasional yaitu melalui musik dan dunia perfilm-an apalagi karena sejauh ini saya hanya menyukai Dae Jang Geum/Jewel in the palace sebagai drama Korea yang paling berkesan dari sisi ekplorasi budaya dan sejarah Korea serta Full House dan Winter Sonata dari sisi sweet-love story dan eksplorasi tempat-tempat iconic yang diangkat. Karena itulah, saya dengan yakin akan selalu mengatakan bahwa Korea Selatan jauh lebih menarik dari sekedar K-pop dan K-drama. 
Beberapa hal sederhana yang sarat makna yang saya temukan sebagai ‘oleh-oleh’ selama mengikuti program IKYEP 2011 lalu adalah usaha dan kedisiplinan orang-orang Korea Selatan menjaga budaya negara mereka. Beberapa diantaranya terekam melalui ke-empat hal di bawah ini. 

Haechi, mitologi bernilai estetik

Chonggyechoen stream adalah salah satu bukti nyata keberhasilan pemerintah Kor-Sel mengahdirkan lahan terbuka bagi warga Seoul khususnya dengan menerapkan kebijakan –yang awalnya kontroversial- tentang normalisasi sungai yang membelah Seoul tersebut. Tapi, tahukah anda bahwa selain sejarah Chonggyechoen stream yang juga merupakan bagian dari upaya serius pemerintah dalam usaha melestarikan lingkungan, sebuah patung boneka kuning yang terlihat imut dan lucu juga menjadi daya tarik tersendiri
Mungkin tak banyak wisatawan yang tahu bahwa boneka dengan mata jenaka dan hidung cokelat itu adalah Haechi, maskot yang dipilih mewakili Seoul sebagai mascot-brand yang diharapkan akan mendunia seperti halnya Lady Liberty-nya New York atau Eiffel-nya Paris. Haechi yang merupakan karakter Mitologi menyerupai singa namun sejatinya adalah anjing pemakan api dianggap sebagai penjaga Seoul dari kebakaran, bencana alam dan kejahatan. Haechi juga dianggap sebagai simbol dari keadilan dan keberuntungan. Lebih dari itu, karakter Haechi yang digambarkan berwajah lucu dan menggemaskan ini juga dinilai memiliki nilai estetika tersendiri bai Seoul. Maskot ini sangat Seoul-sekali!
Well, jika membahas Haechi dan sayembara yang dilakukan sebelum akhirnya Haechi dipilih sebagai maskot, saya sempat berfikir mengapa Jakarta (pemerintah ketika itu) justru memilih Monas yang merupakan representasi dari Lingga dan Yoni? Ditambah lagi keberadaan Monas yang lokasinya justru tak jauh dari Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta?  Lalu, saya juga sempat pernah bertanya dalam hati “kapan ya kali Ciliwung menjadi seindah Chonggyechoen stream?”

Hanok dan Hanji, preservasi klasik tentang jati diri

Ketika berusia 14 tahun saya pernah keranjinganberkirim surat ke beberapa kedutaan asing yang ada di Jakarta untuk sekedar mengharapkan informasi tentang negara-negara tersebut, maka ketika itu saya banyak mendapatkan balasan berupa brosur dan leaflet bahkan kamus saku bahasa asing negara-negara tersebut. Saya lalu memiliki angan untuk mengabadikan suasana musim gugur dengan daun-daun kuning dan merah berjatuhan diatas saya. Sederhana memang, namun bagi saya impian itu eksotis!
Kemudian, di Jeonju Hanok Village mimpi masa kecil itu terwujud, tunai! Senangnya hati saya saat itu tak terperikan setelah sebelumnya tidak mendapatkan momen tersebut ketika masa tinggal singkat saya di Amerika  selesai.
Saat menyusuri Hanok Village dengan segala keunikan interior dan eksterior yang ada, pengunjung pasti akan sangat menikamati area ini, bahkan saya merasa terbawa ke zaman dinasti Joeson dulunya seperti scene-scene yang saya lihat di film Dae Jang Geum. “duhai! apik sekali” batin saya saat itu.

Hanok village adalah bentuk kepedulian pemerintah dan masyarakat Korea Selatan terhadap budaya yang kemudian ditampilkan pemerintah setempat dalam proyek pembangunan arsitektur rumah tradisional Korea yang mengesankan, apik  dan bercita rasa klasik-modern yang elegan. Hal ini dilakukan demi melestarikan rumah tradisional Korea dan proyek ini kemudian mampu menjadi atraksi wisata yang sangat memukau. Ditunjang dengan sarana prasarana yang tetap memanfaatkan hanok sebagai bangunan utama, toko-toko souvenir, galeri seni, handycraft house, café bahkan gang-gang kecil yang bisa anda jelajahi akan terasa sangat kental dengan nuansa Korea tempo dulu apalagi jika dipadukan dengan gemericik air yang dilengkapi dengan kincir air kayu. Love it!
Tapi tunggu dulu! Hanok village tak hanya mengahdirkan nuansa romantic tempo dulu dengan kehadiran puluhan Hanok yang ada. Saat itu, ketika melihat-lihat galeri handycraft setelah puas berhasil membuat Hand Mirror, saya melihat gulungan kertas warna-warni dipajang di toko tersebut. Yeseul Seo, penerjemah kami selama program berlangsung, menjelaskan bahwa kertas-kertas itu adalah hanji.
Hanji terbuat dari chomok, kulit kayu mulberry, dan memakan waktu yang lama dalam proses pengerjaannya dan juga sangat rumit sampai kemudian dapat digunakan untuk beragam keperluan rumah tangga dan even-event tradisional, termasuk digunakan sebagai kertas pelapis pintu atau jendela di dalam hanok. Karena nilai seni tinggi ditambah lagi proses pengerjaan yang rumit dan lama dan juga bahan baku pilihan yang harus dipilih secara sangat selektif inilah pemerintah Korea Selatan sangat protektif dalam menjaga kelestarian tradisi pembuatan hanji.
Bagi saya hanji dan hanok adalah sejoli yang tak dapat dipisahkan. Hanji dan hanok adalah bentuk kearifan orang Korea zaman dahulu yang hingga sekarang dapat dilestarikan di Korea dengan baik.
Andai kita dan juga pemerintah (daerah dan pusat) mengembangkan terobosan-terobosan baru agar lebih mampu menjaga dan melestarikan budaya kita, maka dengan promosi serta penanganan yang lebih baik dan tepat dari yang telah ada sebelumnya, macam-macam kertas berbahan kulit kayu di Nusantara semacam Lantung dari Bengkulu, Tapa dari Kalimantan Tengah atau kertas Lontar dan Daluang di Jawa dan juga rumah-rumah tradisional yang ada di setiap daerah di Nusantara, kekayaan Indonesia ini pasti akan lebih dikenal dan berkembang serta mampu menjadi daya tarik wisata budaya seperti halnya hanok dan hanji-nya Korea Selatan.  

Hanbok, busana yang sangat “ketimur-an”

Hanbok!
Ketika di Korea saya sangat ingin mencoba mengenakan Hanbok sebagai upaya menjawab rasa penasaran saya tentang apa jadinya jika jilbab berpadu dengan Hanbok. Maka ketika momen itu saya dapatkan, hasilnya, serasi!
Setelah belajar melakukan Sebae (cara penghormatan yang dilakukan masayarakat Korea), dan menyantap camilan khas Negeri Ginseng, seorang ibu petugas di Korean National Art Museum menjelaskan tentang Hanbok dan mengizinkan kami memilih Hanbok yang kami sukai. Ia menjelaskan bahwa Hanbok tak hanya tentang berpakaian, namun mengajarkan tentang filosofi kesopanan dalam berbusana kepada generasi muda Korea. “Unlike Japanese and Chinese costume, Hanbok is loose gown so it wouldn’t shape your body but it is still graceful and pretty”. Lalu sang ibu membantu saya mengenakan Hanbok yang ia pilih agar warnanya serasi dengan jilbab hitam saya ketika itu.  
Hanbok mengajarkan saya tentang feelke-timuran yang lebih terasa dibandingkan beberapa pakaian daerah Indonesia. Dari sudut pandang ini, harus diakui bahwa dalam beberapa hal negara kita yang mayoritas berpenduduk Muslim ini ternyata belum se’timur’ beberapa negara lainnya di dunia dan Korea Selatan ternyata memiliki sisi ‘ketimur-an’ tersebut  yang salah satunya hadir dari filosofi Hanbok. 

*Penulis adalah delegasi IKYEP 2011