A story from SSEAYP program

Dear, great friends
So far we’ve heard no story from a young doctor, Yudi Pranata, the IPY of SSEAYP 2014, haven’t we? So that’s why, we happily share you a story from Yudi about one of his unforgettable moments during his program. Happy reading, guys. ^_^


A lesson from Tanita. 
Ketika mendengar kata Jepang, mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah industri automobile, advanced technology, Shinkanzen, kimono, bahkan Sushi. Tidak salah memang.Namun ada banyak hal berbeda yang saya temukan tentang Jepang ketika mengikuti SSEAYP 2014. Program ini memperkaya pandangan saya tentang Jepang, sesuatu yang tidak saya dapatkan melalui televisi dan media lainnya.

Tergabung dalam Grup Diskusi 4 tentang Food and Nutrition Education memberikan saya dan 35 peserta (Participating Youth) lainnya kesempatan berkunjung keTanita Research Corp. Berbeda dengan grup diskusi lainnya, hampir seluruh PY dalam grup diskusi kami telah mengetahui tentang Tanita Research, baik itu latar belakang ataupun jenis usaha yang dilakukan. Hal ini dikarenakan pada saat welcoming ceremony di New Otani Hotel, tim Tanita Research adalah satu-satunya tim yang langsung bertatap muka dan bertukar kartu nama dengan para PY grup diskusi 4 ini. 

Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit dengan bus dari pusat kota Tokyo, kami akhirnya sampai di Tanita Research Corp. Keberadaan gedung kantor yang tidak terlalu luas berkonsep minimalis sempat menimbulkan keraguan di antara beberapa PY karena Tanita Research Corp. yang kami bayangkan sebelumnya berbeda dengan apa yang kami temui. Sampai di halaman kantor, kami langsung diarahkan menuju meeting room dan disambut langsung oleh direktur Tanita Research. Beliau menjelaskan bahwa Tanita Research Corp. adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan alat-alat kesehatan serta penelitian terkait nutrisi. 
Alat-alat kesehatan yang berhasil mereka kembangkan saat ini adalah calori meter, alat-alat diagnosis melalui kelenjar saliva (ludah), body measurement bahkan alat pengukur kualitas tidur. Untuk nutrisi, Tanita Research mengembangkan produk pangan yang rendah kalori dan tinggi serat. Setelag selesai mendengarkan sambutan dari direktur, kami mendapat paparan tentang komponen-komponen nutrisi dan manfaatnya bagi tubuh dari seorang nurtrisionis, Takeniko Ozawa.
Untuk produk yang mereka hasilkan, Tanita Research sangat menekankan pada sisi inovasi dan presisi kalibrasi alat. Contohnya, untuk alat timbang badan (bodyweight scale) Tanita mengembangkan alat yang tidak dipengaruhi oleh gravitasi. Sehingga, pengukuran di belahan bumi manapun akan memberikan hasil yang sama. Hebatnya lagi, teknologi Tanita saat ini populer di kalangan industri besar yang membutuhkan alat kaliberasi dengan ber-presisi tinggi.
Setelah itu, kami berkesempatan untuk melakukan body measurement dengan alat yang dikembangkan oleh Tanita Research. Alat ini sangat canggih dan luar biasa. Dengan hanya berdiri dan memasukan data berupa umur serta jenis kelamin, seluruh komponen tubuh seperti persentase lemak, persentase cairan tubuh, massa otot, tulang dan keseimbangan sturuktur otot pada tubuh langsung dapat diketahui seketika. Sementara hasilnya dicetak dalam selembar diagram yang sangat mudah dibaca dan dipahami.
Selain itu, Tanita telah memberikan kontribusi yang besar di negaranya teutama melalui program-program semisal CSR. Diantaranya adalah, peran Tanita Research Corp. sebagai penanggung jawab untuk tim nasional sepakbola Jepang pada piala dunia 2002 lalu dalam hal nutrisi dan seleksi pemain. Karena itu, tidak heran apabila salah satu koleksi di museum Tanita Research adalah seragam timnas yang dibubuhi tanda tangan para pemain terkenal Jepang seperti Hidetoshi Nakata, Shinji Kagawa, Nagatomo dan Keisuke Honda. Nama-nama tersebut juga melakukan body measurement seperti yang kami lakukan pada hari itu. Bangga rasanya ketika kami mengetahui bahwa para PY dari Indonesia adalah PY dengan hasil athletic scoredan body measurement terbaik di antara PY lainnya, bahkan ada yang menyamai scoresalah satu pemain sepakbola Jepang tersebut. Cihuy!

Hal terakhir yang kami lakukan di Tanita adalah mengunjungi cafetaria Tanita Research dan mencoba menu makan siang yang rendah kalori (350 kalori) dan rendah garam. Chef yang bertugas adalah seorang penulis buku-buku masakan terkenal di Jepang, sehingga tidak heran jika beliau dapat bekerja di dapur tersebut. Maka, jangan pernah membayangkan cita rasa makanan tersebut sama dengan makanan cepat saji yang tinggi lemak dan garam yang seringkali kuta temui bahkan konsumsi. Selesai makan, kami pun kembali ke hotel dengan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga.

Cerita dari Kanada (Part 4)

Dear, Sahabat PCMI Babel
PPPAN tidak sekedar berkunjung ke negara-negara lain loh. Banyak deretan kegiatan yang harus dijalani seorang delegasi selama program masing-masing sesuai dengan karakteristik tiap-tip program yang berbeda. 
Kali ini, Primalita ‘Ayim’ Putri Distina kembali mengirimkan ceritanya tentang salah satu kegiatan yang ia ikuti selama Fase Kanada sebagai seorang relawan di beberapa tempat. 
Yuk disimak ^_^
Learning to give and to share
Tak terasa sebentar lagi fase di Kanada akan berakhir maka perasaan campur aduk-lah yang saya rasakan. Ada perasaan sedih mengingat waktu saya disini akan segera usai. Namun disisi lain, saya juga merasa senang karena akan kembali ke tanah air dan memulai aktivitas baru di fase Indonesia yang akan dilaksanakan di Pondok Meja, Jambi. Salah satu rasa senang itu adalah perasaan bahwa tak lama lagi saya yang sudah sangat rindu makan daging sapi dan ayam halal ini-pun akan segera bisa bebas menyantapnya.

Well, sudah hampir tiga bulan saya di Kanada dan tentunya sudah banyak hal yang terjadi dan dipelajari. Saya sudah melewati mid project di Mount Washington, melihat salju pertama di Duncan yang membuat saya mengharu-biru dan juga berkutat dengan voluntary project. 
Ini adalah salah satu tempat saya bekerja sebagai sukarelawan selama Fase Kanada. Parkside Academy adalah sebuah after school care yang akan segera di buka di awal tahun depan. Ini adalah sebuah project besar dimana saya menjadi volunteer di sini setiap Senin dan Selasa. Saya, bersama partner kerja saya yaitu Nathaniel (Nath) Oimet yang berasal dari Quebec, bekerja di sebuah sekolah yang sudah 2 tahun tidak dipakai dari jam 08.45 pagi hingga 12.30 siang.
Sekolah itu dulunya bernama Somenos Rural Traditional School yang terletak agak jauh dari perkotaan. Namun, suasananya yang asri dan sejuk dengan pemandangan Mt. Prevost serta pepohonan membuat tempat ini terasa menenangkan. 
Selama bekerja disini kami menata ulang sekolah ini dari awal, benar-benar dari awal. Dimulai dengan membersihkan pekarangan sekolah lalu merapikan ruang kelas dan gymnasium, mengecat dinding kelas, mengelap meja, rak buku, kursi, dan lemari, kamudian diikuti dengan menyusun buku-buku, dan beberapa pekerjaan lainnya. Sejujurnya, saya merasa tidak betah pada saat pertama bekerja disini. Saya harus bekerja di luar untuk membersihkan pekarangan di cuaca yang sangat dingin. Tubuh saya terasa ngilu karena dingin yang menusuk hingga ke tulang meski sebenarnya saya sudah memakai baju 4 lapis plus jaket hangat. Silahkan bayangkan seperti apa dinginnya cuaca ketika itu. 

Nath

Saya masih ingat ketika pada suatu saat hujan rintik-rintik turun diikuti dengan angin yang berhembus cukup kencang, tak ayal keadaan tersebut membuat suhu udara menjadi semakin dingin. Saya yang sudah tidak kuat lagi bekerja di luar akhirnya memutuskan masuk ke dalam sekolah yang juga tidak memiliki pemanas ruangan. Lalu saya memutuskan untuk masuk ke dalam toilet dan duduk meringkuk disana. Rasa dingin yang tidak kunjung hilang membuat saya ingin sekali menangis.
Pada saat itu saya sempat berpikir mengapa saya melakukan pekerjaan ini? Bekerja di luar dan menggigil kedinginan?Padahal pekerjaan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan latarbelakang pendidikan saya di bidang Pisikologi. Namun, sejurus kemudian saya menyadari bahwa saya disini sebagai seorang volunteer atau relawan. Relawan berarti saya bekerja tanpa pamrih, tanpa memikirkan bentuk pekerjaan tersebut dan yang terpenting saya dapat berguna bagi banyak orang. Saya sadar bahwa tujuan saya di sini-pun adalah untuk belajar banyak hal dan saya harus bisa mencari insight dari setiap pengalaman yang saya dapatkan.

Kemudian, saya-pun mulai menyemangati diri saya sendiri. Saya membayangkan jika sekolah ini sudah layak pakai dan murid-murid baru berdatangan. Mereka belajar banyak hal di sini, bermain bersama teman-teman mereka, tertawa dengan riang. Bukankah itu suatu hal yang menyenangkan? Waktu dan tenaga yang telah saya berikan untuk tempat ini pun tidak akan sia-sia!
Akhirnya, saat ini sekolah Parkside Academy Learning Centre sudah hampir selesai. Ruangan sudah tertata rapi, mainan pun sudah dikemas sedemikian rupa, buku-buku, rak-rak, dan peralatan bermain dan belajar pun sudah lumayan lengkap. Terbersit rasa puas dalam hati saya. Alhamdulillah… Kepuasan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata!

– Tansor Elementary School

Lain ParksideSomenos, lain pula Tansor Elemntary School. Ini adalah tempat lain dimana saja juga menjadi relawan di sore harinya.  Bagi saya, menjadi relawan di sekolah ini merupakan ‘obat penyembuh ajaib’ selepas kelelahan bekerja di Parkside Academy. Sekolah ini-pun ternyata dekat dengan rumah saya! Disiini, saya bertemu dengan banyak anak yang lucu-lucu dan menggemaskan! After school care adalah project utama Parkside Academy ini.
Dari jam 01.30 hingga 02.00 siang hari, saya bersama Nath bermain bersama anak-anak usia PAUD yang benar-benar sangat bisa membuat hati saya meleleh. Saya sangat takjub sekali dengan segala macam mainan yang dimainkan oleh anak-anak ini; puzzle, clay, rumah-rumahan, ponies, mobil-mobilan, dan permainan lainnya yang belum pernah saya temui! Saya beberapa kali tertarik untuk sedikit menganalisis alat permainan tersebut. Permainan yang digunakan oleh anak-anak ini membantu mereka untuk belajar angka, huruf, bentuk, warna dan lain-lain. Ada sebuah alat permainan puzzle huruf dengan gambar dan warna yang terang. Anak diharapakan bisa menyusun huruf sesuai dengan nama gambar, misalnya ‘car’. Selain itu, alat permainan itu juga membantu mereka mengembangkan motorik kasar dan halus. Ada kalanya mereka menggambar dan mewarnai dengan spidol yang non-toxic dan washable yang aman bagi anak-anak. Pokoknya, permainannya sangat beragam sehingga terkadang tanpa sadar saya ikut bermain bersama mereka bahkan tak jarang saya terbawa suasana hingga asyik bermain sendiri.
Disisi lain, anak-anak juga diajarkan untuk saling berbagi mainan dan bergantian. Para guru bersikap sangat tegas namun mereka tidak pernah sekalipun memarahi anak-anak, apalagi memukul mereka. Tidak ada corporal punishment di sini. Guru-guru menanamkan rasa tanggung jawab dan pentingnya berbagi kepada anak-anak. Saya jadi ingat sebuah quote yang saya baca di dinding kelas itu. Quote dari Dalai Lama yang berbunyi “It is vital that when educating our children’s brains that we do not neglect to educate their hearts.
Setelah bermain, dari jam 02.00 hingga 04.15 sore, saya berpindah tempat ke perpustakaan sekolah untuk bertemu dengan anak-anak yang usianya lebih tua. Lagi-lagi, saya terkagum-kagum dibuatnya. Ada sebuah perpustakaan sekolah yang penuh dengan buku-buku menarik! Ada tentang filsafat, pengetahuan umum, mitologi, sejarah, Kanada dan negara-negara lainnya, sastra, buku cerita bergambar, buku-buku populer seperti Harry Potter, Eragon, Narnia, dan banyak lagi! 
Satu hal lain yang begitu menarik buat saya adalah keberadaan beberapa rak khususus. Di rak-rak tersebut tersusun rapi buku-buku cerita atau pengetahuan yang sesuai dengan musim atau event yang berlangsung. Ketika Halloween, maka dipajang-pin buku tentang Halloween dan sebagainya. Pada saat ini, di rak-rak tersebut tersusun rapi buku tentang Winter dan Christmas!
Nah, di perpustakaan inilah after school care dilaksanakan. Anak-anak dibagi ke dalam dua kelompok; anak-anak kecil dan anak-anak besar. Grup ‘anak kecil’ adalah anak-anak yang berusia 5 hingga 7 tahun yang kebanyakan dari mereka masih duduk di TK dan SD kelas 1. Sementara grup ‘anak besar’ berusia antara 8 hingga 13 tahun. Pada sesi ini, saya mendampingi grup ‘anak besar’.
Kegiatan dimulai dengan mendengarkan cerita atau games kecil-kecilan. Selanjutnya adalaha makan snack bersama. Anak-anak diminta berbaris rapi menuju washroom untuk mencuci tangan. Hebatnya lagi, mereka juga harus memperhatikan bekal makan yang mereka bawa karena mereka tidak diperbolehkan membawa junk food seperti chips, cokelat, dan permen. Buah-buahan, sandwich, dan granola bar adalah jenis makanan yang diperbolehkan. Pernah suatu ketika saya merasa bersalah karena saya memakan cokelat di depan anak-anak tersebut dan mereka memasang wajah memelas, ingin meminta bagian, (ha ha ha ha). 
Kemudian, setelah makan anak-anak akan berkumpul dan mendengarkan cerita lagi. Eits, tetapiada yang berbeda dari story telling kali ini. Patrick, salah satu volunteer yang sudah terlibat sejak 2 tahun lalu, adalah aktor utama dalam kegiatan ini. Dia bercerita dengan melibatkan anak-anak! Ya, ketika dia menceritakan tentang salah seorang tokoh, maka dia akan meminta seorang anak untuk memainkan peran tersebut. Anak-anak tersebut juga sangat antusias dan ekspresif! Saya penasaran, kira-kira bisa tidak ya saya menerapkan gaya story telling ini di Indonesia nantinya?
Sehabis kegiatan story telling, sudah ada tiga meja yang berisi kegiatan fun learning! Beberapa diantaranya adalah words game seperti menyusun nama provinsi di Kanada beserta ibukotanya, menulis tentang hal yang akan dilakukan selama winter, menyusun gambar atau stiker sesuai dengan bentuknya, belajar mengeja, belajar berhitung atau bermain ‘salju’ buatan yang sebenarnya adalah bola-bola bubble seperti jelly yang terasa agak aneh ketika dipegang. Tapi, sejauh ini fun learning favorit saya adalah ketika anak-anak tersebut harus berlomba mencairkan balok es dengan garam! Yup! Sangat seru!
Tidak hanya aktivitas yang mengasah kognitif saja yang dilakukan disini, tapi juga kegiatan yang berkaitan dengan motorik. Anak-anak dibebaskan bermain di luar atau di gymnasium. Semuanya adalah kegiatan bermain karena memang bermain adalah dunia anak-anak. Anak-anak belajar banyak hal dari bermain bersama teman-teman mereka dan itu bukan hanya untuk mengembangkan keterampilan motorik mereka saja, tetapi juga keterampilan psikososial dan kecerdasan emosional. 
Jika cuaca sedang cerah, maka anak-anak bebas bermain di luar karena sekolah ini juga mempunyai halaman sangat luas yang dilengkapi dengan arena bermain seperti outbond.
Anak-anak juga sesekali bermain di hutan dan mengeksplorasinya! Saya pernah ikut bermain bersama anak-anak ini dan ketika itu kami membuat sebuah pondok-pondokan dari ranting-ranting Christmas tree. Sayangnya, pondok kami tidak selesai dengan sempurna karena waktu bermain sudah habis, sayang sekali.
Pada akhirnya, Selasa 16 Desember lalu adalah hari terakhir saya bekerja disini. Perasaan saya campur aduk. Antara senang dan sedih. Saya merasa senang karena pekerjaan saya sudah selesai dan bisa sedikit bersantai sebelum melanjutkan progam di Jambi nanti. Namun, di satu sisi saya pasti akan merindukan anak-anak yang sudah dekat dan selalu bermain bersama saya. Saya pun penasaran ‘bagaimana ketika mereka sudah tumbuh dewasa nanti?’. 
Namun dibalik itu, saya bersyukur untuk setiap kesempatan pembelajaran yang saya miliki selama berada disini. Tuhan tetap mengajarkan saya banyak hal selama program ini berlangsung dan mereka, anak-anak tersebut, adalah guru-guru cilik bagi hidup saya. 

Cerita dari Kanada (Part 3)

Hai hai hai….
Masih ingin mendengar cerita lainnya dari para delegasi 2014??? Yuk, simak cerita berikut ini dari Ayim ^_^

My Host Family: The Birthday Special Gift

Ranbir.Begitulah sebuah nama yang tertulis di kertas yang kami pegang yang akan menjadi host family saya selama di Kanada. Nama yang unik untuk seorang Canadian, menurut saya. Barulah keesokan harinya saya mengetahui bahwa Ranbir adalah Canadian asli India yang sudah tinggal di Kanada sekitar 30 tahun lebih! Beliau adalah seorang perawat dan tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berusia 30 tahun.  Ketika kami bertemu, saya sedikit merasa kikuk dan malu-malu. Beliau suka sekali bercerita, dan berbicara dengan sangat cepat! 

Hari pertama kami lalui dengan menikmati hidangan roti india dengan saus yang.. hmm.. saya lupa. Rasa jahe yang sangat kuat, khas makanan India. Sayang, saya tidak sanggup menghabiskannya karena saya kurang suka jahe. Beliau juga memberikan kami hadiah selamat datang! Saya mendapatkan pashmina ungu yang cantik, sedangkan Chelsea mendapatkan syal oranye yang tak kalah cantiknya.

“ I give you pashmina because you wear scarf (hijab) and because Chelsea is Canadian so I give her scarf for winter to make it more Canadian style” ucapnya kala itu.
Ah.. saya merasa sangat berterima kasih sekali. Saya pun memberikan kain Cual Bangka kepada beliau dan beliau menerimanya dengan senang hati!
“ I can make new clothes from this fabric! It’s beautiful! Thank you” ujarnya sambil membuka kain Cual tersebut. Saya hanya bisa tersenyum bahagia saat itu.

Banyak momen yang saya temui dalam keluarga ini dan salah satu momen yang paling membahagiakan adalah ketika beliau membuat perayaan sederhana di hari ulang tahun saya. Ada birthday cake, muffin, milk tea dan gifts. Bahkan beliau-pun membuat dekorasi dari balon-balon dan streamer. Agak aneh mengingat sudah lama sekali saya tidak merayakan ulang tahun. Aneh yang menyenangkan. Saat itu, saya benar-benar tidak berharap adanya sebuah perayaan ulang tahun. Sebuah ucapan dan doa pun sudah membuat saya senang tak terkira. Bahkan, melihat maple seperti mimpi saya selama ini adalah hadiah terbaik dari Tuhan!

Pagi hari di hari ulang tahun, saya seperti biasa sedang menyiapkan bekal lunch untuk kegiatan hari ini. Saya cukup sibuk hingga tak menyadari bahwa ada sebuah buket bunga cantik di atas meja dapur. Saya terkejut dan melihat sebuah kertas yang bertuliskan
Happy Birthday, Ayim! From Srawan’s”


Yap! Nama host mom saya adalah Ranbir Srawan. Beliau adalah single mom yang bercerai dengan suaminya sekitar 15 tahun yang lalu. Saat ini beliau berusia 57 tahun dan masih bekerja sebagai perawat. Putera tertuanya tinggal di California, telah menikah dan memiliki seorang putra yang masih bayi. Putra keduanya, Satkar, tinggal di Mill Bay yang berjarak sekitar 30 menit dari Duncan. Kadang, Satkar juga sering datang berkunjung dan berbincang dengan kami.

Ketika halloween tadi, kami diajak ke rumahnya dan merayakan halloweenbersama-sama. Putri bungsunya, Rupi, terlihat sangat muda dari usia sebenarnya. Dia berkerja di salah satu tempat workplacement teman saya, Clements yang merupakan sebuah tempat bagi para masyarakat yang berkebutuhan khusus belajar banyak hal.

Host mom saya pandai sekali memasak. Nasi goreng buatannya benar-benar sangat lezat! Terkadang beliau membuat pizza yang enak dan juga sehat. Sebagai seorang perawat, beliau sangat memperhatikan kesehatan dan kehigienisan makanan. Saya banyak belajar tentang hal ini darinya. Satu lagi masakannya yang sangat saya suka, Grilled Salmon!

Ketika awal berada di rumah ini, saya masih tidak tahu apa-apa dan sangat kagum dengan kecanggihan alat-alat seperti microwave, kompor listrik yang dilengkapi dengan oven, dish wahser, laundry machine, bahkan hingga ke vacuum cleaner! Maklum saja, saya adalah anak kampung yang terbiasa dengan peralatan tradisional dan manual. Maka dalam hal ini, Chelsea banyak membantu saya terutama soal mengoperasikan laundry machine. Mereka juga mengajari saya untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Awalnya memang sangat merepotkan, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa, bahkan benar-benar takjub dengan sistem tersebut. Rasanya keluarga-keluarga di Indonesia-pun harus lebih peduli untuk menggiatkan langkah ini.

Di rumah ini, saya dan Chelsea mendapatkan kamar masing-masing. Kami juga memiliki dapur kecil di samping kamar saya, ruang tengah tempat dimana kami berbincang dan mengerjakan tugas, kamar mandi yang sangat apik dan nyaman bahkanair dari kerannya bisa langsung diminum tanpa dimasak! Jadi, kalaupun sedang mandi, air showernya bisa ikut diminum juga. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Ho ho ho.

Sejujurnya, terkadang saya berpikir bahwa saya masih berada di Indonesia. You know what?  Yah, it feels like a home, my own home, my own family. 

A story form Perth (#2)

Another story’s coming, fellas…
Talking about voluntary activities during the program, Najmul Fajri Usman, AIYEP 2014 delegate, has his own story. So, come on, enjoy the story…

Work With Heart

People often said that time indeed flies faster when you truly enjoy it and I have to agree with that statement at this moment.

I seriously can’t believe that we have been staying in this magnificently beautiful countryside for precisely two weeks today! It feels like yesterday since we left Perth and Busselton and continued our AIYEP journey here in Margaret River.

Now, I would like to share to you about one thing that I have been learning a lot during my stay in “Margs” so far. It’s about how beautiful it is to see people who really work with their hearts.

To be honest, I have never expected that this little town would touch my heart and motivate me so much. I have never expected to meet many inspiring local people with such admirable love and sense of belonging towards their lovely town. 

One day, I met Naomi and David from the Regional Environment Center who are currently fighting for the preservation of a forested area in town which has been subjected to be ‘sacrificed’ for the so called 

improved development. 
The other day, I lent my hands in a local Breast Cancer Fundraising project organized by my host Mother and her friends, in which she has spent 6 months of hard work to make it happen.

Another day, I joined beach cleanup and tree planting activities with Cape to Cape Catchment Group, a local volunteering movement which majorly focuses on environmental preservation in the region. 

The other day, in an environmental-related excursion of a local primary school, I met Gavin, a beautiful kangaroo joey whose Mother got hit by a car and is being taken care of by a local animal conservancy at the moment.

You see? There is so much love for both the nature and fellow human being down here. So many people work not only with their brains, but also with their hearts. People in this town have been successfully exemplifying to me on how we should value the life, on how taking care of not only each other but also the environment and it is truly the best way to live the life.

Cerita dari Kanada (part 2)

Yay!!!
Primalita “Ayim” kembali mengirimkan cerita tentang hari-hari selama programnya di Kanada, so, are you waiting for something??? Let’s check this one out, PCMI Babel fellas ^_^

A Great Counterpart: What a bless!!!

Saya sangat beruntung sekali mendapatkan seorang counterpart yang baik hati, manis, cantik, pintar, dan tentu saja… setipe! Namanya Chelsea Connell. Gadis berusia 19 tahun yang berasal dari Prince Edward Island ini tinggal di Charlottetown. Saya masih ingat pertama kali bertemu dengannya. Di Cowichan Lake Training Camp, saya yang saat itu bersama delegasi lainnya baru saja sampai.
 Saat itu sudah cukup larut dan saya membawa barang-barang saya yang banyak dan tentu saja berat ke camp. Cukup kebingungan karena saya tidak tahu harus tidur di kamar yang mana. Lalu saya pun memilih sebuah kamar yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Bersama Rahmi, delegasi Sulawesi Tengah, kami memutuskan untuk tidur di kamar itu. 

Adalah seorang gadis berambut merah bernama Audrey, yang berasal dari Quebec, yang membuat saya tertegun karena gayanya yang unik. Lalu, seorang gadis cantik berambut cokelat keemasan yang tampak kalem dan tenang. Kami berkenalan, dan dia bernama Chelsea. Saya memutuskan untuk tidur di kasur di bawah kasurnya. Ya, tempat tidur bertingkat kami ini segera mengingatkan saya pada jaman berada di asrama di SMA saya dulu. Berbeda dengan Audrey, Chelsea tidak terlalu banyak berbicara. Audrey banyak bertanya berbagai hal dan sangat tampaknya kagum dengan banyak hal. Maka, malam itu saya lalui dengan perasaan senang dan lelah, tentu saja.

Suatu malam, saya tertidur setelah makan malam karena masih jetlag. Padahal, malam itu semua partisipan menuju ke Danau Cowichan untuk membuat api unggun, bernyanyi, dan juga membakar marshmallow. Saya cukup panik karena camp sangat sepi. Namun, ketika melihat ke atas, saya menemukan Chelsea! Saya mengajaknya untuk menemani saya pergi ke tempat yang lainnya berada. Syukurlah, dia bersedia menemani karena suasana benar-benar sepi dan gelap. Apalagi, jalan menuju ke danau tidak ada cahaya sama sekali dan penuh dengan pepohonan. Cahaya bulan purnama menjadi satu-satunya alat penerangan kami. Saya yang berkacamata minus 5 ini agak kesulitan untuk melihat di tempat gelap. Secara refleks saya memegang tangannya dan dia tidak keberatan! Kami berjalan berdua, bercengkarama, dan akhirnya menemukan partisipan lainnya. Malam itu saya menyadari bahwa gadis ini benar-benar baik hati.

Ketika pengumuman counterpart, saya tidak bisa berbohong bahwa saya benar-benar khawatir dan juga penasaran, bercampur jadi satu! Mau tidak mau, counterpart adalah yang seseorang yang menjadi pasangan sehidup semati selama 6 bulan ke depan! Bahkan, hubungan itu bisa saja terus berlanjut di masa yang akan datang. Counterpart adalah teman untuk berbagi, berkisah, dan saling menyemangati. Ketika kami harus mencari potongan puzzle yang tertulis nama kami dan counterpart, saya pun bertemu dengan dia, Chelsea! Saya merasa sangat terharu dan mata saya berkaca-kaca. Saya agak takut mendapatkan counterpart yang belum saya kenal karena saya merasa khawatir tidak bisa cocok dengannya nanti. Syukurlah, Chelsea bersama dengan saya sekarang.

Chelsea benar-benar gadis yang baik hati, dewasa di usianya yang masih belia, ekspresif, dan tentu saja punya passion yang membuat saya kagum dengannya. Dia sangat suka berolahraga terutama lari. Dia adalah seorang pemain Ringette di kampusnya dulu, UPEI! Beberapa waktu lalu, saya mencoba bermain skating untuk pertama kalinya dan dia mengajari saya dengan sabar. Dia terus memuji saya yang mulai bisa berjalan dia atas ring es walau dengan bantuan.

“ You are doing good!! I’m proud counterpart!” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Ah.. saya jadi teraru, lagi. 

Selain itu, Chelsea sangat tertarik dengan kriminologi. Tahun depan dia berencana pindah ke Ottawa dan kuliah di jurusan kriminologi. Suatu hari ketika pulang dari workplacement, dia membawa buku Crimonology in Canada dan membacanya dengan semangat. Dia juga mengajak diskusi dan bertanya mengenai kaitan psikologi dalam dunia kriminalitas. Malam-malam sebelumnya pun kadang kami habiskan dengan berbagi pikiran mengenai passion, cita-cita, kehidupan kami, keluarga, dan kadang gosip-gosip hehe. Beberapa kalimat bahasa Indonesia favoritnya adalah: “ Dimana makanannya?”, “ Kamu makan kucing”, “ Kamu makan batu-batuan”…. ^_^

Karena sosok inilah, jika berbicara tentang counterpart, tentu saja saya sangat bersyukur dan berterima kasih mendapatkan Counterpart seperti Chelsea Connell. Sungguh, saya benar-benar beruntung!

Homestay: Sebuah proses pembelajaran


Hi, great fellas
Another story from IKYEP delegation, Wira Tri Barkah. 
Happy reading ^_^

Homestay: Sebuah proses pembelajaran


Ada yang berbeda rasanya saat saya telah kembali berada di Indonesia. Ada perasaan sedih ketika meninggalkan tempat yang indah disana, berpisah dengan semua momen saat menghabiskan waktu bersama teman-teman dan keluarga angkat. Saya juga merindukan Ayah Choi dan keluarganya yang hangat. Tidak ada lagi daun kuning dan merah yang indah berderet di sepanjang jalan seperti yang selalu terlihat selama fase Korea. Tidak ada lagi cuaca dingin yang sejuk yang memaksa kami harus memakai jaket tebal. Saya mulai merindukan momen-momen itu, pemandangan dan suasana indah yang berbeda dengan Indonesia.
Tapi disisi lain, sebagai orang Indonesia tulen, saya-pun senang bisa kembali ke Indonesia, tanah kelahiran, tanah tumpah darah. Saya juga merindukan negeri yang indah ini. Seperti kata pepatah, Seindah-indahnya negeri orang, senyaman-nyamannya negeri orang, tetap lebih indah negeri sendiri, masih lebih nyaman negeri sendiri. Darah saya adalah darah Indonesia, tidak mungkin sayatidak merindukan negeri dengan sejuta keindahan dan budaya ini.
Tepat tanggal 10 November 2014 IPYs dan National leaderkembali ke Indonesia dengan penerbangan Cathay Pacific, pesawat canggih, modern, nyaman dan lengkapdengan pelayanan standar Internasional. Kami kembali ke Indonesia tidak bersamaan dengan delegasi Korea. Mereka ke Indonesia sehari setelahnya, tanggal 11 November 2014. Kami pertama bertemu dengan delegasi Korea di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, tempat singgah sementara sebelum melaksanakan fase Indonesia di Kuningan, Jawa Barat.

Lagi dan lagi, pada fase Indonesia kami juga melaksanakan program homestay. Namun, perbedaannya adalah program homestay fase Indonesia lebih lama dibandingkan pada saat fase Korea, yaitu 4 hari. Pada homestayfase Indonesia, kami dipasangkan dengan delegasi Korea. Saya, Ave, dan Hyeon Woo (Wahyu) adalah satu kelompok homestaydi rumah Bapak Unida. 

Ketika program homestay mulai, bagi kita orang-orang Indonesia, makanan seperti tempe, tahu, ikan asin, dan sambal adalah makanan yang menggugah selera, hal biasa. Tapi belum tentu dengan orang asing yang baru pertama kali mencoba. Ketika itu, saya terus melihat wajah Hyeon Wo, hanya ingin tahu bagaimana ekspresinya ketika pertama kali makan makanan Indonesia ini. Alhamdulillah, orang Korea satu ini tidak terlalu pilah pilih soal makanan, dia menyukai masakan Indonesia, walaupun terlihat sederhana tapi dia suka dengan rasanya. Aku tersenyum melihat Hyeon Wo saat makan tanpa menggunakan alat makan seperti sendok ataupun sumpit seperti kebiasaan orang Korea. Lucu, karna ini kali pertamanya dia makan hanya dengan menggunakan tangan, maka terlihat kaku saat saya melihatnya makan. Kami pun mengajarinya bagaimana cara yang benar makan dengan menggunakan tangan. Dia terlihat begitu antusias mencoba. Senang sekali bisa berbagi dengannya, mengajari bagaimana kebiasaan tradisional orang Indonesia, ketika makan contohnya.
Selain soal makanan, ada satu hal lagi yang membuat delegasi Korea sedikit khawatir. Urusan kamar mandi atau toilet. Di Korea, semua kamar kecil memiliki desain toilet dengan kloset duduk, bahkan banyak yang dilengkapi fitur-fitur canggih, jauh lebih canggih daripada toilet duduk yang biasa kita temui di Indonesia, serta kebiasaan mereka yang hanya menggunakan tisu untuk berbilas. Sedangkan di Indonesia, tepatnya di daerah Kuningan tempat fase Indonesia dilaksanakan, rata-rata kamar kecil hanya memiliki toilet dengan desain kloset jongkok dan menggunakan air untuk berbilas, tidak ada tisu. Hal inilah yang membuat kebanyakan delegasi Korea bingung, mereka tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Jadi, mau tidak mau kami juga harus mengajarkan hal ini kepada delegasi Korea, walaupun agak sedikit terasa ‘anehmengajarkan hal tersebut. Namun, hal bagusnya, sayakagum kepada Hyeon Wo, dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak banyak tingkah dan mudah diatur untuk mempelajari kebiasaan masyarakat Indonesia. Keluarga induk semang kami-pun menyukainya.

Hari Minggu 16 November 2014, semua kegiatan diserahkan pada keluarga angkat. Saatnya acara bebas,tidak ada acara yang menyangkut program.Dengan kata lain kami diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan kami sendiri bersama keluarga homestay. Maka, pada hari itu, saya, Ave, Hyeon Wo dan Mas Adit (host brother) berencana untuk jalan-jalan ke kebun Bapak di kaki gunung Ciremai. Kami mengajak teman kami lainnya, Musa dan Yeonsu. Lokasi kebun Bapak berada lumayan jauh dan agak tinggi mengarah ke Gunung Ciremai, sehingga kami harus sedikit mendaki untuk sampai di kebun. Kurang lebih selama satu jam 30 menit, akhirnya kami sampai di kebun Bapak. Kami tidak berada terlalu lama di kebun. Karena banyaknya nyamuk hutan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang melewati jalur yang berbeda. Memakan waktu 2 jam untuk sampai dirumah karena jalan kami yang lambat, sering beristirahat, dan bersantai sambil melihat pemandangan sekitaran gunung Ciremai.

Setibanya kami di rumah, Hyeon Wo dan Yeonsu lalu mengajak kami berenang. Kebetulan di daerah tempat kami homestay terdapat kolam pemandian Waterboom, sehingga kami tidak perlu repot-repot menggunakan kendaraan, kami hanya butuhberjalan kaki dari rumah menuju kolam renang itu. Tidak lama kami berenang, air yang dingin memaksa kami untuk tidak menghabiskan berlama-lama di tempat ini. Dan yang terpenting adalah kami bisa menghabiskan waktu bersama, saling berbagi, saling belajar, dan mengajari kebiasaan serta aturan-aturan di masing-masing negara kami.

Bagi saya, yang terpenting dari kegiatan homestay ini adalah peluang yang tersedia yang mengajak kita untuk lebih dekat dengan masyarakat dari budaya dan tradisi berbeda. Program homestay juga menawarkan kepada kami untuk lebih peka dengan lingkungan sekitar. Kami-pun dapat saling mempelajari budaya masing-masing secara langsung dan lebih dekat sambil menjalin koneksi dan pemahaman yang dapat menguatkan jalinan persahabatan dan juga kekeluargaan. Pada akhirnya, saya merasa bahwa terciptanya mutul understanding, yang merupakan salah satu tujuan dari program pertukaran pemuda, adalah hal yang paling berharga yang saya alami sepanjang program. Saya sangat bersyukur untuk hal ini. I really do! 

One Day In Siheung City

Hi, sahabat PCMI Babel 
Wira Tri Barkah, delegasi IKYEP, telah menyelesaikan programnya saat ini. Sebagai oleh-oleh kecil, Wira ingin berbagi cerita tentang kegiatannya di Korea. 
Di bawah ini adalah salah satu cerita Wira yang ingin dibagikan kepada Sahabat PCMI Babel. So, enjoy the story ^_^ 

One Day In Siheung City


Sore itu kami sampai di Siheung City, salah satu kota kecil di Korea Selatan. Di kota inilah para IPYs IKYEP 2014 melaksanakan salah satu program menarik, homestay
Jujur saja, awalnya saya beranggapan bahwahomestay adalah program yang membosankan dan sepi, entah karena kekhawatiran akan munculnya language barrier atau ketidak nyaman-an karena tidak bisa bercanda dengan teman-temansesama delegasi karena akan terpisah di rumah host familymasing-masing. Namun ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak hal-hal menarik tentang Korea yangdapat saya rasakan saat bersama dengan host family saya meski program hanya berjalansatu hari. Homestay program berubah menjadi begitu berkesan karena dengan begitu saya dapatmengenal keluarga Negeri Ginseng yang menyenangkan seperti host family saya.

Pertama-tama, kami dipertemukan dengan orang tua angkat kami di Siheung City Hall. Ada banyak keluarga yang berada disana dan mereka adalah orang-orang baik yang akan mengayomi layaknya keluarga dan mengajarkan kamitentang kehidupan keluarga di Korea Selatan serta mengenalkan kami lebih dekat kepada kehidupan mereka.

Selama program homestay ini, saya bersama dua IPYs lainnya yaitu Heri, delegasi provinsi Jambi, dan Ave, delegasi provinsi Lampung, akan tinggal bersama orang tua angkat yang sama. Diawal pertemuan saya sempat merasa khawatir akan seperti apa host family saya nantinya, ditambah lagi perasaan was-was dikarenakan host family saya yang datang terlambat di pertemuan tersebut. Namun pada akhirnya, seorang lelaki duduk bergabung ke meja kami. Mr. Choi, begitu ia memperkenalkan dirinya. Kesan pertama yang muncul dalah bahwa ia adalah seorang periang, ramah dan bersahaja. Wajah cerianya membuat kekhawatiran saya sirna seketika. 

Setelah pertemuan usai, saya dan 2 IPYs lainnyalangsung diajak the host daddyke suatu tempat. “Bersepeda mengelilingi kota Incheon”. Duh! Menarik sekali rasanya membayangkan rencana itu. Mr. Choi sangat mengenal daerah itu karena kawasan tersebut adalahtempat dia bekerja. Dengan menggunakan mobil kami pergi ke kantor dimana ia bekerja dan setelah sampai di kantornya, masing-masing dari kami dipinjamkan sepeda. Ayah  Choi membagikan kunci sepeda dengan nomor kode kepada masing-masing kami yang langsung berhamburanmulai mencari sepeda masing-masing. Ave dan Heri menertawakan saya ketika mereka tahu bahwa sepeda yang saya dapat adalah sepeda perempuan dengan keranjang depan yang membuatku terlihat ‘girly’ alih-alih ‘macho’. Stop! Jangan bayangkan! ^_^ Tapi, saya tidak peduli, karena yang terpenting adalah menikmati acarajalan-jalan mengelilingi kota indah ini bersama dengan Ayah Choi dan dua orang sahabat saya, Heri dan Ave.



Ada yang bisa membayangkan seperti apa bersemangatnya kami di hari itu?? Bersepeda ria mengelilingi taman-taman di kota Incheon. Ini adalah kesempatan yang sangat langka, yang mungkin saja hanya akan saya rasakan sekali seumur hidup. Meski dalam hati saya berharap  bahwa suatu hari nanti saya dan seseorang yang saya cintai, istri, akan kembali ke negri ini lagi. Terlalu asyik menikmati suasana dan berangan-angan, tak sadar Ayah Choi yang begitu bersemangat telah berada jauh mengayuh di depan, sementara kami jauh tertinggal di belakangnya.

Sungguh tak terasa ternyata ketika itu kami bersepeda hingga larut senja, tak terlihat lagi matahari karena yang ada hanya sinar lampu yang menerangi pinggiran jalan, cahaya lembut taman kota, udara sejuk menembus kulit, daun Mapel dan Ginko berwarna kuning dan merah. Aih! Suasana ini persis seperti drama korea yang sering kalian tonton di televisi, penuh dengan romantika. Silahkan bayangkan sendiri (He he he he)

Letih bersepeda, akhirnya kami pulang ke rumah orangtua angkat kami yang  berada tidak jauh dari tempat bersepeda tadi. Kami pun tiba di kediamannya di sebuah apartemen, di lantai 8. Host Mom kami langsung menyambut dengan ramah. Di ruang keluarga saya melihat seorang anak kecil menonton televisi. Dia adalah anak tunggal dari orangtua angkat kami, So Young namanya. Anak perempuan yang sangat lucu, cantik, dan cerdas. Saya sangat kagum padanya karena talenta luar biasa yang dimilikinya. So Young bisa memainkan beberapa alat musik seperti piano, biola, dan suling. Dia pun mengerti bahasa inggris sehingga memudahkan kami berkomunikasi dengannya. Setelah bercengkrama dan makan malam, kami segera beristirahat di ruang kamar yang menurut kami sangat nyaman, walaupun satu kamar harus dihuni bertiga. Tak jadi masalah. 

Keesokan harinya, setelah bangun dari tidur nyenyak, sekitar pukul 10.00 pagi, kami pergi ke Grand park bersama Ayah Choi. Taman itu adalah taman yang sangat luas dan indah. Dedaunan kuning dan merah berderet di sepanjang jalan memanjakan mata.

Di taman ini kami diajak ayah berkeliling dan mendaki bukit yang cukup tinggi. Ini adalah kali pertamanya saya berkeringat selama di Korea. Kami juga menelusuri jalan setapak yang menanjak yang cukup membuat kami lelah. Sepanjang perjalanan, kami dan ayah saling bercerita dan berbagi pengalaman. Kami begitu dekat ayah sehingga membuat kami merasa nyaman dan gembira bisa bersama dengannya. Tidak jarang kami beristirahat, sambil mengabadikan momen-momen kami. Momen-momen seperti itu tentunya sangat sayang untuk dilewatkan. 
Akhirnya tepat pukul 1.30 siang, kami memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan kami, turun dari puncak menelusuri jalan setapak dengan pemandangan yang indah. Tidak terasa begitu cepat sampai di kaki gunung. Saya tidak merasakan lelah yang berarti, hanya perasaan senang dan syukur karena bisa bersama-sama mereka meski dalam waktu yang singkat, keluarga angkat dari negara dan budaya yang berbeda dan dua orang teman yang hebat, Heri dan Ave.


A story from Perth!


Hi everyone
Do you remember Fajri Usman? He is Bangka Belitung delegation for Australia-Indonesia YEP. Couple days ago, he sent us a link to his writing on AIYEP website. So, we’ll be really glad to share you his story in Perth. Here you go………..

The Unexpectedly Amazing Weekend

“Is everyone ready? We need to leave in 10 minutes as we gotta

pick Ryan at Hillarys first before we go to South Perth Park”, said Agnes, my host Mom, to me and my host sister, Emily, who were being lazy that whole day”. “Yeaaaah,” Emily and I moved reluctantly from our comfortable couches and started to get ready. “Oh come on guys, be excited, there would be a lot of ‘giant’ games they said”, told Mom to cheer us up.

“I’m too tired to play any game, Mommy”, replied Emily and I added, “Yeah, I seriously don’t feel like socializing with many new people today, Mom.” Mom ignored us, kept preparing the salad we were requested to bring to the picnic and made us left the house afterwards.
Last Sunday, November 2, 2014, was the big picnic day organized by our local coordinator, in which all participants, host families, program alumni, and people from the Indonesian Consulate General of the City of Perth were all cordially invited to come.
When we were done picking up Ryan, we went straight to the park and along the way I still tried to convince our Mom that we don’t have to come if we don’t feel like coming, that we actually could just drive back home instead. Mom told us that she’s also not feeling quite well at the moment but she has already RSVP us all and it is impolite to cancel it at the very last minute. So, we kept going.

Once we have arrived at the park, it took quite some time for us to find the venue because it was actually such a very large park. When we have found the venue, everyone welcomed us with their brightest and most friendly smiles. I started to feel even more comfortable when some of the other host families warmly approached us to get to know each other better. Moreover, when Mom and I went to get some refreshment we were surprised that there were so many Indonesian food we’ve been craving such as Bakso, Mie Ayam, Risoles, Onde-Onde, and all. They were so heavenly that Mom said she was so happy that we decided to come and I totally agreed with her.

Emily, Ryan, and I suddenly forgot that we were tired and felt lazy as we played many games together with all the other host families. My AIYEP team also got to show to all the attendees a medley of Indonesian traditional songs and Saman dance which we have always been so proud to show off. I was so happy that all the people loved our performances and had such a good time. At that moment, I could clearly see how everyone is trying to embrace such a cross-cultural understanding which is also the main goal this program aims to build.

We laughed and had so much fun together regardless of our different cultural, educational, and social backgrounds. It was so beautiful. I was so grateful at that moment and silently thanked AIYEP for giving me such a golden opportunity to be a part of this amazing program. Moral of the story is that sometimes decision you half-heartedly took in life can always surprise you and turn your perception on many things at such a different level 😉

See ya in my other story, mate!

Cerita dari Kanada (part 1)

Primalita Putri Destina, Ayim, saat ini tengah menjalani program ICYEP dan berada di Kanada, tepatnya di Duncan. PCMI Bangka Belitung mendapat email tentang sekelumit cerita Ayim di awal program. ^_^ Happy reading, pals


Cerita dari Kanada (Part 1)
Terhitung sudah satu bulan lebih sejak kaki saya menginjak bumi dengan sejuta pohon maple ini. Sejujurnya, saya masih antara percaya dan tidak percaya jika kini saya sedang berada di sebuah negara di Amerika Utara, bersuhu sangat dingin bagi anak pulau seperti saya ini, dan juga perbedaan waktu yang sangat jauh dari negeri tercinta, Indonesia. Saya masih ingat lelucon yang dilontarkan oleh teman saya beberapa waktu yang lalu ketika kami sedang melakukan Educational Activity Day di Sweat Lodge. “ Beneran kita sudah di Kanada? Jangan-jangan ini di Indonesia dan pemandangan ini cuma gambar doang..”. Jika mengingat itu, saya jadi tertawa sendiri. Bisa jadi, itu adalah ungkapan bahwa kami masih setengah sadar dengan salah satu mimpi kami yang kini jadi sebuah kenyataan.

Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang dilihat, banyak hal yang dialami, dan juga banyak hal yang dipelajari. Saya ingin berbagi kisah mengenai petualangan ajaib dan mengasyikkan di Bumi Maple ini.
The City of Totems and The Warm Land

Saya bertempat tinggal di kota Duncan, sebuah kota mungil yang terkenal dengan julukan The City of Totems. Kota ini terletak di Pulau Vancouver, British Columbia. Ada sekitar 80 totem di kota ini. Sayangnya, saya masih belum melihat seluruh totemnya. Hanya beberapa saja yang ada di dowtown. Pemerintah setempat membuat totem-totem ini menjadi salah satu daya tarik wisata kota Duncan. Mereka membuat ‘jejak kaki’ sebagai arah menuju satu totem dan totem lainnya di downtown. Jejak-jejak kaki tersebut dinamakan Totem Tour

Tak hanya itu, kota ini terasa sangat alami dengan Mount Prevost yang selalu menjadi pemandangan cantik bagi saya ketika bekerja di Parkside Academy, ataupun pulang dari downtown menuju rumah. Sungguh kota yang menakjubkan. Gunung itu berdiri kokoh, dan sesekali tertutup kabut ketika suhu agak mendingin dan mendung.

Duncan terletak di distrik Cowichan Valley. Cowichan sendiri berasal dari kata Quw’utsun dari bahasa First Nation atau suku aborigin asli Kanada yang berarti the warm land. Saya pun menjadi agak heran, “Dimanakah letak hangatnya?”. Namun, saya langsung menyadari bahwa daerah ini memang lebih hangat daripada daerah-daerah lain di Kanada yang bahkan sekarang sudah turun salju dengan suhu minus yang membuat tulang-tulang ngilu, hehe. Syukurlah, di Duncan, saya masih bisa merasakan indahnya musim gugur yang cantik dengan cuaca cerah ceria. Bahkan, host mom saya berkata bahwa suhu paling rendah di kota ini adalah -10 derajat celcius!

Hanya saja, sekitar seminggu yang lalu, angin cukup kencang melanda kota ini. Tidak sampai menjadi badai, tetapi sukses membuat beberapa ranting berjatuhan hingga pohon-pohon tumbang. Beberapa daerah di kota pun harus merasakan mati lampu yang cukup lama. Saya beruntung karena daerah rumah saya tidak mati lampu. Hari itu kota Duncan terasa seperti kota mati. Apalagi saya dan beberapa teman harus pulang agak malam karena ada sedikit kegiatan. Kami semua merasa sangat aneh. Rasa aneh yang benar-benar aneh. Bahkan, seorang wanita muda yang kami temui di dalam bis pun merasakan hal yang sama. Syukurlah, ketika pagi menjelang kota ini terlihat seperti biasa lagi. Listrik menyala dan terlebih lagi, cuaca menjadi cerah hingga hari ini. Memang benar apa yang dikatakan orang, Badai Pasti Berlalu dan juga kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang. 

– Respect, ramah, dan penuh kasih sayang

Sejak melangkahkan kaki di negeri ini, saya tidak ada sedikit pun rasa ketakutan mengalami diskriminasi atas kewarganegaraan saya, terlebih dengan jilbab saya. Kanada adalah negara multikultural dengan masyarakat yang open minded. Mereka sudah terbiasa dengan perbedaan ras, suku, budaya, dan agama. Bahkan, di kota Duncan ini saya banyak bertemu dengan berbagai macam suku bangsa seperti India, Tibet, Cina, Korea, Filipina, dan lain-lain. Ya, Canadian memang saling memahami dan menghormati satu sama lain.

Saya masih ingat pertama kali saya sampai di bandara Internasional Vancouver, saya saat itu masuk ke dalam washroom bersama teman saya. Saya berdiri di depan wastafel, sendirian. Lalu, seorang wanita muda menegur dan bertanya, “ Apa yang kamu pakai di kepalamu?”

Saat itu saya kaget karena tiba-tiba ada orang tak dikenal mengajak saya berbicara. Sempat bengong beberapa saat, lalu saya menjawab, “ Scarf (hijab)”.

Wanita itu tersenyum, “ Oh.. apakah itu salah satu pakaian agamamu?”

Saya pun membalas pertanyaannya dengan ikut tersenyum, “ Iya. Karena saya muslim, saya memakai scarf ini.”

“ Wow. Nice!” dan saya terkaget-kaget dengan balasannya wanita tersebut. Seketika, perasaan saya menjadi senang. Ah… Canadian ini sungguh baik sekali.

Hari-hari pun berlalu, dan saya tetap merasa nyaman dengan jilbab saya. Tidak ada yang menganggu, tidak ada yang mencibir. Alhamdulillah. Bahkan, orang-orang di sini sangat ramah sekali. Ketika berselisih jalan dan bertemu pandang, mereka akan tersenyum dan berkata “ Hai”, “ Hallo”, atau “ Good morning”.

Suatu ketika saya bersama dua orang teman Canadian saya masuk ke sebuah toko buku bekas di downtown. Pemilik toko tersebut menyambut kami dengan ramah, dan ketika dia melihat saya, dia mengucapkan, “ Assalamu’alaykum” sambil memberikan senyuman yang hangat. Duhai Tuhan, saya jatuh cinta pada keramahan masyarakat di sini.

Apalagi, hal yang menjadi perhatian saya adalah ketika bertemu dengan orang yang dikenal, pasti selalu diawali dengan percakapan:

“ Hey! How are you today?”

“ I’m fine, thanks. And you?”

“ Yeah. I’m good too!”

Ini bukan sebuah praktik percakapan Bahasa Inggris di sekolah, tetapi ini adalah kenyataan yang selalu saya temui setiap hari.

Ketika akan pergi, tak lupa mereka mengatakan, “ Have a good day!”

Yah.. ucapan yang bukan hanya sekadar kata bagi saya. Melainkan, sebuah doa dan ini memberikan perasaan hangat di cuaca yang dingin ini, hehe.

Mereka juga tidak pernah pelit untuk melontarkan pujian. Ketika berbincang, mereka tak pernah berhenti memberikan kata, “ Wow!”, “Great!”, “Awesome!” dan kata-kata ajaib lainnya. Bahkan, ketika melihat seseorang mengenakan pakaian yang bagus, mereka tidak sungkan untuk memuji, “ I like your dress. So beautiful” pada orang yang mereka temui di bis sekali pun.

Saya juga pernah mendapat pujian dari orang yang tidak saya kenal, hehe. Orang itu bilang, “ I like your brooch.. so pretty” sambil tersenyum manis. Siapa yang tidak senang?
Bertambah lagi rasa kagum saya pada mereka. Iya, mereka, Canadian adalah orang yang ramah dan penuh dengan apresiasi. Pantas saja warga di sini tampak selalu bahagia dan tersenyum setiap saat.
(Primalita Putri Destina, ICYEP, 2014)