Budidaya Ikan Lele: Sebuah Tahap Awal

wira7

Sekembalinya dari program IKYEP 2014, Wira Tri Barkah, delegasi terpilih Bangka Belitung 2014, mulai menjalankan Post Program Activity. Mahasiswa lulusan bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memilih program Wirausaha Ikan Lele dalam Pengembangan Potensi Perikanan Air Tawar Bangka Belitung sebagai PPA-nya yang sejalan dengan latar belakang pendidikannya.

Dirinya memilih melakukan program di bidang ini berawal dari keprihatinannya terhadap kerusakan lingkungan di Pulau Belitung khususnya yang terjadi karena pembukaan tambang liar yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut terjadi karena masih banyak masyarakat yang masih bergantung pada tambang timah, padahal Bangka Belitung memiliki potensi lain yang jauh lebih besar, yaitu perikanan. Sayangnya, mayoritas masyarakat Bangka Belitung hanya mengetahui potensi perikanan Bangka Belitung hanyalah ikan laut, sedangkan potensi perikanan air tawar masih belum difahami dan dilirik oleh masyarakat Bangka Belitung. Kondisi inilah yang kemudian mendorong pemuda Belitung ini untuk menjalankan program ini sebagai usaha awal pengembangan potensi perikanan air tawar di daerahnya sekaligus mengedukasi masyarakat tentang budidaya ikan lele.

Mengapa Ikan lele?

Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan berbagai olahan yang berasal dari ikan lele ini sangat banyak ditemukan di berbagai daerah, baik di desa maupun kota.Selain itu, budidaya Lele merupakan salah satu budidaya agribisnis yang perlu mendapat perhatian serius. Selain karena permintaan pasar untuk ikan lele sangat tinggi, baik untuk konsumsi nasional maupun ekspor, budidaya lele juga bisa dilakukan di lahan sempit dan yang terpenting tidak merusak lahan. Selain itu, budidaya ikan lele ini tergolong usaha yang relatif tidak sulit untuk dilaksanakan karena tidak memerlukan keterampilan khusus. Para pemula usaha budidaya ikan lele hanya perlu ketekunan dalam proses pemeliharaan. Apabila ketekunan itu telah mereka miliki, maka tidak akan sulit untuk belajar dan melakukan bisnis budidaya ikan lele.

Oleh karena itu, tujuan awal yang ingin dicapai melalui program ini adalah:

  • Pemuda memiliki keterampilan dalam usaha budidaya ikan lele yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
  • Membuka lapangan pekerjaan baru  bagi masyarakat setempat.
  • Membuka wawasan masyarakat terhadap potensi perikanan di provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Program ini mulai ia jalankan pada Februari 2015 hingga Mei 2015 lalu dengan memberdayakan 10 orang pemuda Karang Taruna Desa Pelepak Putih, Kec. Sijuk, Kabupaten Belitung.

Program ini diawali dengan sosialisasi kegiatan dan rekrutmen pemuda karang taruna serta pembagian modul budidaya ikan lele. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan kolam budidaya. Hal unik dalam fase ini adalah pemanfaatan kolam terpal sebagai kolam budidaya di atas lahan bekas tambang dengan  5 kolam berukuran 4×2 m setiap kolamnya, 3 kolam untuk penebaran awal, dan 2 kolam grading. Kemudian dilanjutkan dengan pengisian air kolam yang diikuti dengan penebaran 3.000 ekor benih lele serta dilanjutkan dengan proses pemeliharaan kualitas air dan pembesaran ikan.

Selain disediakan kolam, benih dan pakan ikan, selama proyek dilakukan, para pemuda karang taruna yang terlibat juga mendapatkan pendampingan dalam proses usaha budidaya yang meliputi: diskusi tentang cara budidaya ikan yang baik, pembuatan pakan ikan, pengelolaan kualitas air, pembesaran, panen dan proses pemasaran ikan. Tentu saja Wira tak bekerja sendirian,  ia mendapatkan support dari Dinas Kelautan dan perikanan Kab. Belitung dan seorang tenaga penyuluh perikanan.

Pemeliharaan ikan lele dilakukan kurang lebih selama 3 bulan. Selama proses pemeliharaan, dilakukan evaluasi setiap minggunya sekaligus pembekalan atau sharing tentang ilmu-ilmu budidaya ikan lele. Dalam pembagian tugasnya Wira membagi ke 10 orang timnya menjadi 3 tim yang masing-masing beranggotakan 3 orang dan 1 orang sebagai ketua. Ia juga selalu melakukan koordinasi dengan ketua kelompok untuk mengontrol tiap-tiap anggotanya pada proses pemberian pakan ikan sebanyak 3 kali sehari, pergantian air sebanyak 1 minggu sekali, sampai dengan pemanenan ikan lele.

Ikan lele dipanen setelah berumur 3 bulan. Panen dilakukan secara parsial sebanyak 3 kali proses panen. Panen parsial dilakukan karena sebagian ikan lele tidak tumbuh besar bersamaan (seleksi alam), masih terdapat ikan lele yang belum masuk ukuran panen. Panen pertama ikan lele yaitu sebanyak 60 kg, panen kedua sebanyak 110 kg, dan panen ketiga sebanyak 120 kg. Total hasil panen budidaya ikan lele yaitu sebanyak 290 kg dengan harga ikan lele 23.000 rupiah/kg. Sehingga pendapatan yang didapatkan 6.670.000 rupiah dengan keuntungan per siklus 2.870.000 rupiah. Pendapatan yang didapatkan akan digunakan kembali untuk meningkatkan usaha budidaya ikan lele.

Karena keberhasilan ini pula-lah Program ini-pun telah mendapatkan sambutan hangat pada kegiatan Pre-Departure Training IKYEP 2015 lalu di Jakarta dan menjadi salah satu PPA yang dipresentasikan ketika itu.

Sebagai inisiator program ini, Wira berharap melalui pelatihan, pengalaman lapangan, dan ilmu yang ditransfer selama program, program ini dapat membantu dan memotivasi masyarakat terutama pemuda-pemuda di Desa Pelepak Putih agar dapat mandiri dalam melakukan budidaya ikan lele.

Yuk kita doakan bersama semoga program ini menjadi langkah awal bagi pemuda-pemuda Bangka Belitung untuk berwirausaha dan turut serta mengembangkan potensi perikanan yang ada.

Matras Olah Sampah

AYIM5Matras Olah Sampah adalah kegiatan paska program (Post Program Activity/PPA) yang dilakukan oleh Primalita Putri Distina, delegasi Babel di ICYEP 2014, pada bulan Juni 2015.

Berawal dari kekhawatirannya terhadap banyaknya sampah yang berserakan di sepanjang area pantai Matras serta desa Matras, Primalita akhirnya memutuskan untuk menjalankan Matras Olah Sampah (MOS) dengan tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengolahan sampah yang efektif khususnya masyarakat yang ada di desa Matras, Sungailiat, Bangka.

Program MOS ini dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu:

  1. BBM/Bersih Bersih Matras.
  2. KOMPAS/Workshop Kompos Matras

Kegiatan pertama, BBM, dilakukan pada hari Minggu, 07 Juni 2015 di desa Matras. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan beberapa unsur seperti masyarakat Matras, pihak Kelurahan Matras, KOPHI Babel, Duta Lingkungan Hidup Pangkalpinang, mahasiswa-mahasiswa UBB & Polman serta pemuda setempat.

Pada kegiatan ini, partisipan kegiatan membersihkan wilayah desa Matras khususnya di area lapangan bola yang merupakan salah satu sarana publik yang krusial bagi masyarakat setempat. Selain membersihkan sampah di area tersebut, partisipan juga diajak memilah-milah sampah kedalam dua jenis; organik dan non organik.

Selanjutnya, Primalita melaksanakan kegiatan kedua yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan pertama, yaitu Workshop Kompos Matras/KOMPAS pada 14 Juni 2015. Kegiatan ini diikuti oleh banyak partisipan dari beberapa komunitas, seperti Kelompok Wanita Tani Matras, PKK Matras, Kelurahan Matras, Kurma Al-Fatih, PCMI Babel dan juga pemuda setempat. Pemateri pada kegiatan tahap dua ini adalah Iqal Zamzami dari Yayasan Sayang Babel Kita. Workshop ini-pun dilengkapi dengan  praktek langsung membuat kompos yang kemudian dilanjutkan dengan pembagian 300 bibit Kakao kepada masyarakat Desa Matras dari Yayasan Sayang Babel Kite.

Melalui rangkaian program ini, Primalita berharap masyarakat dapat lebih memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan terlebih lagi desa Matras merupakan kawasan wisata yang selalu dikunjungi masyarakat.

Saat ini, dirinya sedang merancang beberapa rencana untuk melanjutkan PPA-nya agar dapat lebih berkesinambungan dengan melibatkan beberapa komunitas yang fokus kepada penanganan sampah dan kebersihan lingkungan di Bangka.