Cerita dari Kanada (Part 3)

Hai hai hai….
Masih ingin mendengar cerita lainnya dari para delegasi 2014??? Yuk, simak cerita berikut ini dari Ayim ^_^

My Host Family: The Birthday Special Gift

Ranbir.Begitulah sebuah nama yang tertulis di kertas yang kami pegang yang akan menjadi host family saya selama di Kanada. Nama yang unik untuk seorang Canadian, menurut saya. Barulah keesokan harinya saya mengetahui bahwa Ranbir adalah Canadian asli India yang sudah tinggal di Kanada sekitar 30 tahun lebih! Beliau adalah seorang perawat dan tinggal berdua bersama anak perempuannya yang berusia 30 tahun.  Ketika kami bertemu, saya sedikit merasa kikuk dan malu-malu. Beliau suka sekali bercerita, dan berbicara dengan sangat cepat! 

Hari pertama kami lalui dengan menikmati hidangan roti india dengan saus yang.. hmm.. saya lupa. Rasa jahe yang sangat kuat, khas makanan India. Sayang, saya tidak sanggup menghabiskannya karena saya kurang suka jahe. Beliau juga memberikan kami hadiah selamat datang! Saya mendapatkan pashmina ungu yang cantik, sedangkan Chelsea mendapatkan syal oranye yang tak kalah cantiknya.

“ I give you pashmina because you wear scarf (hijab) and because Chelsea is Canadian so I give her scarf for winter to make it more Canadian style” ucapnya kala itu.
Ah.. saya merasa sangat berterima kasih sekali. Saya pun memberikan kain Cual Bangka kepada beliau dan beliau menerimanya dengan senang hati!
“ I can make new clothes from this fabric! It’s beautiful! Thank you” ujarnya sambil membuka kain Cual tersebut. Saya hanya bisa tersenyum bahagia saat itu.

Banyak momen yang saya temui dalam keluarga ini dan salah satu momen yang paling membahagiakan adalah ketika beliau membuat perayaan sederhana di hari ulang tahun saya. Ada birthday cake, muffin, milk tea dan gifts. Bahkan beliau-pun membuat dekorasi dari balon-balon dan streamer. Agak aneh mengingat sudah lama sekali saya tidak merayakan ulang tahun. Aneh yang menyenangkan. Saat itu, saya benar-benar tidak berharap adanya sebuah perayaan ulang tahun. Sebuah ucapan dan doa pun sudah membuat saya senang tak terkira. Bahkan, melihat maple seperti mimpi saya selama ini adalah hadiah terbaik dari Tuhan!

Pagi hari di hari ulang tahun, saya seperti biasa sedang menyiapkan bekal lunch untuk kegiatan hari ini. Saya cukup sibuk hingga tak menyadari bahwa ada sebuah buket bunga cantik di atas meja dapur. Saya terkejut dan melihat sebuah kertas yang bertuliskan
Happy Birthday, Ayim! From Srawan’s”


Yap! Nama host mom saya adalah Ranbir Srawan. Beliau adalah single mom yang bercerai dengan suaminya sekitar 15 tahun yang lalu. Saat ini beliau berusia 57 tahun dan masih bekerja sebagai perawat. Putera tertuanya tinggal di California, telah menikah dan memiliki seorang putra yang masih bayi. Putra keduanya, Satkar, tinggal di Mill Bay yang berjarak sekitar 30 menit dari Duncan. Kadang, Satkar juga sering datang berkunjung dan berbincang dengan kami.

Ketika halloween tadi, kami diajak ke rumahnya dan merayakan halloweenbersama-sama. Putri bungsunya, Rupi, terlihat sangat muda dari usia sebenarnya. Dia berkerja di salah satu tempat workplacement teman saya, Clements yang merupakan sebuah tempat bagi para masyarakat yang berkebutuhan khusus belajar banyak hal.

Host mom saya pandai sekali memasak. Nasi goreng buatannya benar-benar sangat lezat! Terkadang beliau membuat pizza yang enak dan juga sehat. Sebagai seorang perawat, beliau sangat memperhatikan kesehatan dan kehigienisan makanan. Saya banyak belajar tentang hal ini darinya. Satu lagi masakannya yang sangat saya suka, Grilled Salmon!

Ketika awal berada di rumah ini, saya masih tidak tahu apa-apa dan sangat kagum dengan kecanggihan alat-alat seperti microwave, kompor listrik yang dilengkapi dengan oven, dish wahser, laundry machine, bahkan hingga ke vacuum cleaner! Maklum saja, saya adalah anak kampung yang terbiasa dengan peralatan tradisional dan manual. Maka dalam hal ini, Chelsea banyak membantu saya terutama soal mengoperasikan laundry machine. Mereka juga mengajari saya untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya. Awalnya memang sangat merepotkan, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa, bahkan benar-benar takjub dengan sistem tersebut. Rasanya keluarga-keluarga di Indonesia-pun harus lebih peduli untuk menggiatkan langkah ini.

Di rumah ini, saya dan Chelsea mendapatkan kamar masing-masing. Kami juga memiliki dapur kecil di samping kamar saya, ruang tengah tempat dimana kami berbincang dan mengerjakan tugas, kamar mandi yang sangat apik dan nyaman bahkanair dari kerannya bisa langsung diminum tanpa dimasak! Jadi, kalaupun sedang mandi, air showernya bisa ikut diminum juga. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Ho ho ho.

Sejujurnya, terkadang saya berpikir bahwa saya masih berada di Indonesia. You know what?  Yah, it feels like a home, my own home, my own family. 

A story form Perth (#2)

Another story’s coming, fellas…
Talking about voluntary activities during the program, Najmul Fajri Usman, AIYEP 2014 delegate, has his own story. So, come on, enjoy the story…

Work With Heart

People often said that time indeed flies faster when you truly enjoy it and I have to agree with that statement at this moment.

I seriously can’t believe that we have been staying in this magnificently beautiful countryside for precisely two weeks today! It feels like yesterday since we left Perth and Busselton and continued our AIYEP journey here in Margaret River.

Now, I would like to share to you about one thing that I have been learning a lot during my stay in “Margs” so far. It’s about how beautiful it is to see people who really work with their hearts.

To be honest, I have never expected that this little town would touch my heart and motivate me so much. I have never expected to meet many inspiring local people with such admirable love and sense of belonging towards their lovely town. 

One day, I met Naomi and David from the Regional Environment Center who are currently fighting for the preservation of a forested area in town which has been subjected to be ‘sacrificed’ for the so called 

improved development. 
The other day, I lent my hands in a local Breast Cancer Fundraising project organized by my host Mother and her friends, in which she has spent 6 months of hard work to make it happen.

Another day, I joined beach cleanup and tree planting activities with Cape to Cape Catchment Group, a local volunteering movement which majorly focuses on environmental preservation in the region. 

The other day, in an environmental-related excursion of a local primary school, I met Gavin, a beautiful kangaroo joey whose Mother got hit by a car and is being taken care of by a local animal conservancy at the moment.

You see? There is so much love for both the nature and fellow human being down here. So many people work not only with their brains, but also with their hearts. People in this town have been successfully exemplifying to me on how we should value the life, on how taking care of not only each other but also the environment and it is truly the best way to live the life.

Cerita dari Kanada (part 2)

Yay!!!
Primalita “Ayim” kembali mengirimkan cerita tentang hari-hari selama programnya di Kanada, so, are you waiting for something??? Let’s check this one out, PCMI Babel fellas ^_^

A Great Counterpart: What a bless!!!

Saya sangat beruntung sekali mendapatkan seorang counterpart yang baik hati, manis, cantik, pintar, dan tentu saja… setipe! Namanya Chelsea Connell. Gadis berusia 19 tahun yang berasal dari Prince Edward Island ini tinggal di Charlottetown. Saya masih ingat pertama kali bertemu dengannya. Di Cowichan Lake Training Camp, saya yang saat itu bersama delegasi lainnya baru saja sampai.
 Saat itu sudah cukup larut dan saya membawa barang-barang saya yang banyak dan tentu saja berat ke camp. Cukup kebingungan karena saya tidak tahu harus tidur di kamar yang mana. Lalu saya pun memilih sebuah kamar yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Bersama Rahmi, delegasi Sulawesi Tengah, kami memutuskan untuk tidur di kamar itu. 

Adalah seorang gadis berambut merah bernama Audrey, yang berasal dari Quebec, yang membuat saya tertegun karena gayanya yang unik. Lalu, seorang gadis cantik berambut cokelat keemasan yang tampak kalem dan tenang. Kami berkenalan, dan dia bernama Chelsea. Saya memutuskan untuk tidur di kasur di bawah kasurnya. Ya, tempat tidur bertingkat kami ini segera mengingatkan saya pada jaman berada di asrama di SMA saya dulu. Berbeda dengan Audrey, Chelsea tidak terlalu banyak berbicara. Audrey banyak bertanya berbagai hal dan sangat tampaknya kagum dengan banyak hal. Maka, malam itu saya lalui dengan perasaan senang dan lelah, tentu saja.

Suatu malam, saya tertidur setelah makan malam karena masih jetlag. Padahal, malam itu semua partisipan menuju ke Danau Cowichan untuk membuat api unggun, bernyanyi, dan juga membakar marshmallow. Saya cukup panik karena camp sangat sepi. Namun, ketika melihat ke atas, saya menemukan Chelsea! Saya mengajaknya untuk menemani saya pergi ke tempat yang lainnya berada. Syukurlah, dia bersedia menemani karena suasana benar-benar sepi dan gelap. Apalagi, jalan menuju ke danau tidak ada cahaya sama sekali dan penuh dengan pepohonan. Cahaya bulan purnama menjadi satu-satunya alat penerangan kami. Saya yang berkacamata minus 5 ini agak kesulitan untuk melihat di tempat gelap. Secara refleks saya memegang tangannya dan dia tidak keberatan! Kami berjalan berdua, bercengkarama, dan akhirnya menemukan partisipan lainnya. Malam itu saya menyadari bahwa gadis ini benar-benar baik hati.

Ketika pengumuman counterpart, saya tidak bisa berbohong bahwa saya benar-benar khawatir dan juga penasaran, bercampur jadi satu! Mau tidak mau, counterpart adalah yang seseorang yang menjadi pasangan sehidup semati selama 6 bulan ke depan! Bahkan, hubungan itu bisa saja terus berlanjut di masa yang akan datang. Counterpart adalah teman untuk berbagi, berkisah, dan saling menyemangati. Ketika kami harus mencari potongan puzzle yang tertulis nama kami dan counterpart, saya pun bertemu dengan dia, Chelsea! Saya merasa sangat terharu dan mata saya berkaca-kaca. Saya agak takut mendapatkan counterpart yang belum saya kenal karena saya merasa khawatir tidak bisa cocok dengannya nanti. Syukurlah, Chelsea bersama dengan saya sekarang.

Chelsea benar-benar gadis yang baik hati, dewasa di usianya yang masih belia, ekspresif, dan tentu saja punya passion yang membuat saya kagum dengannya. Dia sangat suka berolahraga terutama lari. Dia adalah seorang pemain Ringette di kampusnya dulu, UPEI! Beberapa waktu lalu, saya mencoba bermain skating untuk pertama kalinya dan dia mengajari saya dengan sabar. Dia terus memuji saya yang mulai bisa berjalan dia atas ring es walau dengan bantuan.

“ You are doing good!! I’m proud counterpart!” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Ah.. saya jadi teraru, lagi. 

Selain itu, Chelsea sangat tertarik dengan kriminologi. Tahun depan dia berencana pindah ke Ottawa dan kuliah di jurusan kriminologi. Suatu hari ketika pulang dari workplacement, dia membawa buku Crimonology in Canada dan membacanya dengan semangat. Dia juga mengajak diskusi dan bertanya mengenai kaitan psikologi dalam dunia kriminalitas. Malam-malam sebelumnya pun kadang kami habiskan dengan berbagi pikiran mengenai passion, cita-cita, kehidupan kami, keluarga, dan kadang gosip-gosip hehe. Beberapa kalimat bahasa Indonesia favoritnya adalah: “ Dimana makanannya?”, “ Kamu makan kucing”, “ Kamu makan batu-batuan”…. ^_^

Karena sosok inilah, jika berbicara tentang counterpart, tentu saja saya sangat bersyukur dan berterima kasih mendapatkan Counterpart seperti Chelsea Connell. Sungguh, saya benar-benar beruntung!

Homestay: Sebuah proses pembelajaran


Hi, great fellas
Another story from IKYEP delegation, Wira Tri Barkah. 
Happy reading ^_^

Homestay: Sebuah proses pembelajaran


Ada yang berbeda rasanya saat saya telah kembali berada di Indonesia. Ada perasaan sedih ketika meninggalkan tempat yang indah disana, berpisah dengan semua momen saat menghabiskan waktu bersama teman-teman dan keluarga angkat. Saya juga merindukan Ayah Choi dan keluarganya yang hangat. Tidak ada lagi daun kuning dan merah yang indah berderet di sepanjang jalan seperti yang selalu terlihat selama fase Korea. Tidak ada lagi cuaca dingin yang sejuk yang memaksa kami harus memakai jaket tebal. Saya mulai merindukan momen-momen itu, pemandangan dan suasana indah yang berbeda dengan Indonesia.
Tapi disisi lain, sebagai orang Indonesia tulen, saya-pun senang bisa kembali ke Indonesia, tanah kelahiran, tanah tumpah darah. Saya juga merindukan negeri yang indah ini. Seperti kata pepatah, Seindah-indahnya negeri orang, senyaman-nyamannya negeri orang, tetap lebih indah negeri sendiri, masih lebih nyaman negeri sendiri. Darah saya adalah darah Indonesia, tidak mungkin sayatidak merindukan negeri dengan sejuta keindahan dan budaya ini.
Tepat tanggal 10 November 2014 IPYs dan National leaderkembali ke Indonesia dengan penerbangan Cathay Pacific, pesawat canggih, modern, nyaman dan lengkapdengan pelayanan standar Internasional. Kami kembali ke Indonesia tidak bersamaan dengan delegasi Korea. Mereka ke Indonesia sehari setelahnya, tanggal 11 November 2014. Kami pertama bertemu dengan delegasi Korea di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, tempat singgah sementara sebelum melaksanakan fase Indonesia di Kuningan, Jawa Barat.

Lagi dan lagi, pada fase Indonesia kami juga melaksanakan program homestay. Namun, perbedaannya adalah program homestay fase Indonesia lebih lama dibandingkan pada saat fase Korea, yaitu 4 hari. Pada homestayfase Indonesia, kami dipasangkan dengan delegasi Korea. Saya, Ave, dan Hyeon Woo (Wahyu) adalah satu kelompok homestaydi rumah Bapak Unida. 

Ketika program homestay mulai, bagi kita orang-orang Indonesia, makanan seperti tempe, tahu, ikan asin, dan sambal adalah makanan yang menggugah selera, hal biasa. Tapi belum tentu dengan orang asing yang baru pertama kali mencoba. Ketika itu, saya terus melihat wajah Hyeon Wo, hanya ingin tahu bagaimana ekspresinya ketika pertama kali makan makanan Indonesia ini. Alhamdulillah, orang Korea satu ini tidak terlalu pilah pilih soal makanan, dia menyukai masakan Indonesia, walaupun terlihat sederhana tapi dia suka dengan rasanya. Aku tersenyum melihat Hyeon Wo saat makan tanpa menggunakan alat makan seperti sendok ataupun sumpit seperti kebiasaan orang Korea. Lucu, karna ini kali pertamanya dia makan hanya dengan menggunakan tangan, maka terlihat kaku saat saya melihatnya makan. Kami pun mengajarinya bagaimana cara yang benar makan dengan menggunakan tangan. Dia terlihat begitu antusias mencoba. Senang sekali bisa berbagi dengannya, mengajari bagaimana kebiasaan tradisional orang Indonesia, ketika makan contohnya.
Selain soal makanan, ada satu hal lagi yang membuat delegasi Korea sedikit khawatir. Urusan kamar mandi atau toilet. Di Korea, semua kamar kecil memiliki desain toilet dengan kloset duduk, bahkan banyak yang dilengkapi fitur-fitur canggih, jauh lebih canggih daripada toilet duduk yang biasa kita temui di Indonesia, serta kebiasaan mereka yang hanya menggunakan tisu untuk berbilas. Sedangkan di Indonesia, tepatnya di daerah Kuningan tempat fase Indonesia dilaksanakan, rata-rata kamar kecil hanya memiliki toilet dengan desain kloset jongkok dan menggunakan air untuk berbilas, tidak ada tisu. Hal inilah yang membuat kebanyakan delegasi Korea bingung, mereka tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Jadi, mau tidak mau kami juga harus mengajarkan hal ini kepada delegasi Korea, walaupun agak sedikit terasa ‘anehmengajarkan hal tersebut. Namun, hal bagusnya, sayakagum kepada Hyeon Wo, dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tidak banyak tingkah dan mudah diatur untuk mempelajari kebiasaan masyarakat Indonesia. Keluarga induk semang kami-pun menyukainya.

Hari Minggu 16 November 2014, semua kegiatan diserahkan pada keluarga angkat. Saatnya acara bebas,tidak ada acara yang menyangkut program.Dengan kata lain kami diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan kami sendiri bersama keluarga homestay. Maka, pada hari itu, saya, Ave, Hyeon Wo dan Mas Adit (host brother) berencana untuk jalan-jalan ke kebun Bapak di kaki gunung Ciremai. Kami mengajak teman kami lainnya, Musa dan Yeonsu. Lokasi kebun Bapak berada lumayan jauh dan agak tinggi mengarah ke Gunung Ciremai, sehingga kami harus sedikit mendaki untuk sampai di kebun. Kurang lebih selama satu jam 30 menit, akhirnya kami sampai di kebun Bapak. Kami tidak berada terlalu lama di kebun. Karena banyaknya nyamuk hutan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang melewati jalur yang berbeda. Memakan waktu 2 jam untuk sampai dirumah karena jalan kami yang lambat, sering beristirahat, dan bersantai sambil melihat pemandangan sekitaran gunung Ciremai.

Setibanya kami di rumah, Hyeon Wo dan Yeonsu lalu mengajak kami berenang. Kebetulan di daerah tempat kami homestay terdapat kolam pemandian Waterboom, sehingga kami tidak perlu repot-repot menggunakan kendaraan, kami hanya butuhberjalan kaki dari rumah menuju kolam renang itu. Tidak lama kami berenang, air yang dingin memaksa kami untuk tidak menghabiskan berlama-lama di tempat ini. Dan yang terpenting adalah kami bisa menghabiskan waktu bersama, saling berbagi, saling belajar, dan mengajari kebiasaan serta aturan-aturan di masing-masing negara kami.

Bagi saya, yang terpenting dari kegiatan homestay ini adalah peluang yang tersedia yang mengajak kita untuk lebih dekat dengan masyarakat dari budaya dan tradisi berbeda. Program homestay juga menawarkan kepada kami untuk lebih peka dengan lingkungan sekitar. Kami-pun dapat saling mempelajari budaya masing-masing secara langsung dan lebih dekat sambil menjalin koneksi dan pemahaman yang dapat menguatkan jalinan persahabatan dan juga kekeluargaan. Pada akhirnya, saya merasa bahwa terciptanya mutul understanding, yang merupakan salah satu tujuan dari program pertukaran pemuda, adalah hal yang paling berharga yang saya alami sepanjang program. Saya sangat bersyukur untuk hal ini. I really do! 

One Day In Siheung City

Hi, sahabat PCMI Babel 
Wira Tri Barkah, delegasi IKYEP, telah menyelesaikan programnya saat ini. Sebagai oleh-oleh kecil, Wira ingin berbagi cerita tentang kegiatannya di Korea. 
Di bawah ini adalah salah satu cerita Wira yang ingin dibagikan kepada Sahabat PCMI Babel. So, enjoy the story ^_^ 

One Day In Siheung City


Sore itu kami sampai di Siheung City, salah satu kota kecil di Korea Selatan. Di kota inilah para IPYs IKYEP 2014 melaksanakan salah satu program menarik, homestay
Jujur saja, awalnya saya beranggapan bahwahomestay adalah program yang membosankan dan sepi, entah karena kekhawatiran akan munculnya language barrier atau ketidak nyaman-an karena tidak bisa bercanda dengan teman-temansesama delegasi karena akan terpisah di rumah host familymasing-masing. Namun ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak hal-hal menarik tentang Korea yangdapat saya rasakan saat bersama dengan host family saya meski program hanya berjalansatu hari. Homestay program berubah menjadi begitu berkesan karena dengan begitu saya dapatmengenal keluarga Negeri Ginseng yang menyenangkan seperti host family saya.

Pertama-tama, kami dipertemukan dengan orang tua angkat kami di Siheung City Hall. Ada banyak keluarga yang berada disana dan mereka adalah orang-orang baik yang akan mengayomi layaknya keluarga dan mengajarkan kamitentang kehidupan keluarga di Korea Selatan serta mengenalkan kami lebih dekat kepada kehidupan mereka.

Selama program homestay ini, saya bersama dua IPYs lainnya yaitu Heri, delegasi provinsi Jambi, dan Ave, delegasi provinsi Lampung, akan tinggal bersama orang tua angkat yang sama. Diawal pertemuan saya sempat merasa khawatir akan seperti apa host family saya nantinya, ditambah lagi perasaan was-was dikarenakan host family saya yang datang terlambat di pertemuan tersebut. Namun pada akhirnya, seorang lelaki duduk bergabung ke meja kami. Mr. Choi, begitu ia memperkenalkan dirinya. Kesan pertama yang muncul dalah bahwa ia adalah seorang periang, ramah dan bersahaja. Wajah cerianya membuat kekhawatiran saya sirna seketika. 

Setelah pertemuan usai, saya dan 2 IPYs lainnyalangsung diajak the host daddyke suatu tempat. “Bersepeda mengelilingi kota Incheon”. Duh! Menarik sekali rasanya membayangkan rencana itu. Mr. Choi sangat mengenal daerah itu karena kawasan tersebut adalahtempat dia bekerja. Dengan menggunakan mobil kami pergi ke kantor dimana ia bekerja dan setelah sampai di kantornya, masing-masing dari kami dipinjamkan sepeda. Ayah  Choi membagikan kunci sepeda dengan nomor kode kepada masing-masing kami yang langsung berhamburanmulai mencari sepeda masing-masing. Ave dan Heri menertawakan saya ketika mereka tahu bahwa sepeda yang saya dapat adalah sepeda perempuan dengan keranjang depan yang membuatku terlihat ‘girly’ alih-alih ‘macho’. Stop! Jangan bayangkan! ^_^ Tapi, saya tidak peduli, karena yang terpenting adalah menikmati acarajalan-jalan mengelilingi kota indah ini bersama dengan Ayah Choi dan dua orang sahabat saya, Heri dan Ave.



Ada yang bisa membayangkan seperti apa bersemangatnya kami di hari itu?? Bersepeda ria mengelilingi taman-taman di kota Incheon. Ini adalah kesempatan yang sangat langka, yang mungkin saja hanya akan saya rasakan sekali seumur hidup. Meski dalam hati saya berharap  bahwa suatu hari nanti saya dan seseorang yang saya cintai, istri, akan kembali ke negri ini lagi. Terlalu asyik menikmati suasana dan berangan-angan, tak sadar Ayah Choi yang begitu bersemangat telah berada jauh mengayuh di depan, sementara kami jauh tertinggal di belakangnya.

Sungguh tak terasa ternyata ketika itu kami bersepeda hingga larut senja, tak terlihat lagi matahari karena yang ada hanya sinar lampu yang menerangi pinggiran jalan, cahaya lembut taman kota, udara sejuk menembus kulit, daun Mapel dan Ginko berwarna kuning dan merah. Aih! Suasana ini persis seperti drama korea yang sering kalian tonton di televisi, penuh dengan romantika. Silahkan bayangkan sendiri (He he he he)

Letih bersepeda, akhirnya kami pulang ke rumah orangtua angkat kami yang  berada tidak jauh dari tempat bersepeda tadi. Kami pun tiba di kediamannya di sebuah apartemen, di lantai 8. Host Mom kami langsung menyambut dengan ramah. Di ruang keluarga saya melihat seorang anak kecil menonton televisi. Dia adalah anak tunggal dari orangtua angkat kami, So Young namanya. Anak perempuan yang sangat lucu, cantik, dan cerdas. Saya sangat kagum padanya karena talenta luar biasa yang dimilikinya. So Young bisa memainkan beberapa alat musik seperti piano, biola, dan suling. Dia pun mengerti bahasa inggris sehingga memudahkan kami berkomunikasi dengannya. Setelah bercengkrama dan makan malam, kami segera beristirahat di ruang kamar yang menurut kami sangat nyaman, walaupun satu kamar harus dihuni bertiga. Tak jadi masalah. 

Keesokan harinya, setelah bangun dari tidur nyenyak, sekitar pukul 10.00 pagi, kami pergi ke Grand park bersama Ayah Choi. Taman itu adalah taman yang sangat luas dan indah. Dedaunan kuning dan merah berderet di sepanjang jalan memanjakan mata.

Di taman ini kami diajak ayah berkeliling dan mendaki bukit yang cukup tinggi. Ini adalah kali pertamanya saya berkeringat selama di Korea. Kami juga menelusuri jalan setapak yang menanjak yang cukup membuat kami lelah. Sepanjang perjalanan, kami dan ayah saling bercerita dan berbagi pengalaman. Kami begitu dekat ayah sehingga membuat kami merasa nyaman dan gembira bisa bersama dengannya. Tidak jarang kami beristirahat, sambil mengabadikan momen-momen kami. Momen-momen seperti itu tentunya sangat sayang untuk dilewatkan. 
Akhirnya tepat pukul 1.30 siang, kami memutuskan untuk menyelesaikan perjalanan kami, turun dari puncak menelusuri jalan setapak dengan pemandangan yang indah. Tidak terasa begitu cepat sampai di kaki gunung. Saya tidak merasakan lelah yang berarti, hanya perasaan senang dan syukur karena bisa bersama-sama mereka meski dalam waktu yang singkat, keluarga angkat dari negara dan budaya yang berbeda dan dua orang teman yang hebat, Heri dan Ave.


A story from Perth!


Hi everyone
Do you remember Fajri Usman? He is Bangka Belitung delegation for Australia-Indonesia YEP. Couple days ago, he sent us a link to his writing on AIYEP website. So, we’ll be really glad to share you his story in Perth. Here you go………..

The Unexpectedly Amazing Weekend

“Is everyone ready? We need to leave in 10 minutes as we gotta

pick Ryan at Hillarys first before we go to South Perth Park”, said Agnes, my host Mom, to me and my host sister, Emily, who were being lazy that whole day”. “Yeaaaah,” Emily and I moved reluctantly from our comfortable couches and started to get ready. “Oh come on guys, be excited, there would be a lot of ‘giant’ games they said”, told Mom to cheer us up.

“I’m too tired to play any game, Mommy”, replied Emily and I added, “Yeah, I seriously don’t feel like socializing with many new people today, Mom.” Mom ignored us, kept preparing the salad we were requested to bring to the picnic and made us left the house afterwards.
Last Sunday, November 2, 2014, was the big picnic day organized by our local coordinator, in which all participants, host families, program alumni, and people from the Indonesian Consulate General of the City of Perth were all cordially invited to come.
When we were done picking up Ryan, we went straight to the park and along the way I still tried to convince our Mom that we don’t have to come if we don’t feel like coming, that we actually could just drive back home instead. Mom told us that she’s also not feeling quite well at the moment but she has already RSVP us all and it is impolite to cancel it at the very last minute. So, we kept going.

Once we have arrived at the park, it took quite some time for us to find the venue because it was actually such a very large park. When we have found the venue, everyone welcomed us with their brightest and most friendly smiles. I started to feel even more comfortable when some of the other host families warmly approached us to get to know each other better. Moreover, when Mom and I went to get some refreshment we were surprised that there were so many Indonesian food we’ve been craving such as Bakso, Mie Ayam, Risoles, Onde-Onde, and all. They were so heavenly that Mom said she was so happy that we decided to come and I totally agreed with her.

Emily, Ryan, and I suddenly forgot that we were tired and felt lazy as we played many games together with all the other host families. My AIYEP team also got to show to all the attendees a medley of Indonesian traditional songs and Saman dance which we have always been so proud to show off. I was so happy that all the people loved our performances and had such a good time. At that moment, I could clearly see how everyone is trying to embrace such a cross-cultural understanding which is also the main goal this program aims to build.

We laughed and had so much fun together regardless of our different cultural, educational, and social backgrounds. It was so beautiful. I was so grateful at that moment and silently thanked AIYEP for giving me such a golden opportunity to be a part of this amazing program. Moral of the story is that sometimes decision you half-heartedly took in life can always surprise you and turn your perception on many things at such a different level 😉

See ya in my other story, mate!