Cerita dari Kanada (part 1)

Primalita Putri Destina, Ayim, saat ini tengah menjalani program ICYEP dan berada di Kanada, tepatnya di Duncan. PCMI Bangka Belitung mendapat email tentang sekelumit cerita Ayim di awal program. ^_^ Happy reading, pals


Cerita dari Kanada (Part 1)
Terhitung sudah satu bulan lebih sejak kaki saya menginjak bumi dengan sejuta pohon maple ini. Sejujurnya, saya masih antara percaya dan tidak percaya jika kini saya sedang berada di sebuah negara di Amerika Utara, bersuhu sangat dingin bagi anak pulau seperti saya ini, dan juga perbedaan waktu yang sangat jauh dari negeri tercinta, Indonesia. Saya masih ingat lelucon yang dilontarkan oleh teman saya beberapa waktu yang lalu ketika kami sedang melakukan Educational Activity Day di Sweat Lodge. “ Beneran kita sudah di Kanada? Jangan-jangan ini di Indonesia dan pemandangan ini cuma gambar doang..”. Jika mengingat itu, saya jadi tertawa sendiri. Bisa jadi, itu adalah ungkapan bahwa kami masih setengah sadar dengan salah satu mimpi kami yang kini jadi sebuah kenyataan.

Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang dilihat, banyak hal yang dialami, dan juga banyak hal yang dipelajari. Saya ingin berbagi kisah mengenai petualangan ajaib dan mengasyikkan di Bumi Maple ini.
The City of Totems and The Warm Land

Saya bertempat tinggal di kota Duncan, sebuah kota mungil yang terkenal dengan julukan The City of Totems. Kota ini terletak di Pulau Vancouver, British Columbia. Ada sekitar 80 totem di kota ini. Sayangnya, saya masih belum melihat seluruh totemnya. Hanya beberapa saja yang ada di dowtown. Pemerintah setempat membuat totem-totem ini menjadi salah satu daya tarik wisata kota Duncan. Mereka membuat ‘jejak kaki’ sebagai arah menuju satu totem dan totem lainnya di downtown. Jejak-jejak kaki tersebut dinamakan Totem Tour

Tak hanya itu, kota ini terasa sangat alami dengan Mount Prevost yang selalu menjadi pemandangan cantik bagi saya ketika bekerja di Parkside Academy, ataupun pulang dari downtown menuju rumah. Sungguh kota yang menakjubkan. Gunung itu berdiri kokoh, dan sesekali tertutup kabut ketika suhu agak mendingin dan mendung.

Duncan terletak di distrik Cowichan Valley. Cowichan sendiri berasal dari kata Quw’utsun dari bahasa First Nation atau suku aborigin asli Kanada yang berarti the warm land. Saya pun menjadi agak heran, “Dimanakah letak hangatnya?”. Namun, saya langsung menyadari bahwa daerah ini memang lebih hangat daripada daerah-daerah lain di Kanada yang bahkan sekarang sudah turun salju dengan suhu minus yang membuat tulang-tulang ngilu, hehe. Syukurlah, di Duncan, saya masih bisa merasakan indahnya musim gugur yang cantik dengan cuaca cerah ceria. Bahkan, host mom saya berkata bahwa suhu paling rendah di kota ini adalah -10 derajat celcius!

Hanya saja, sekitar seminggu yang lalu, angin cukup kencang melanda kota ini. Tidak sampai menjadi badai, tetapi sukses membuat beberapa ranting berjatuhan hingga pohon-pohon tumbang. Beberapa daerah di kota pun harus merasakan mati lampu yang cukup lama. Saya beruntung karena daerah rumah saya tidak mati lampu. Hari itu kota Duncan terasa seperti kota mati. Apalagi saya dan beberapa teman harus pulang agak malam karena ada sedikit kegiatan. Kami semua merasa sangat aneh. Rasa aneh yang benar-benar aneh. Bahkan, seorang wanita muda yang kami temui di dalam bis pun merasakan hal yang sama. Syukurlah, ketika pagi menjelang kota ini terlihat seperti biasa lagi. Listrik menyala dan terlebih lagi, cuaca menjadi cerah hingga hari ini. Memang benar apa yang dikatakan orang, Badai Pasti Berlalu dan juga kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang. 

– Respect, ramah, dan penuh kasih sayang

Sejak melangkahkan kaki di negeri ini, saya tidak ada sedikit pun rasa ketakutan mengalami diskriminasi atas kewarganegaraan saya, terlebih dengan jilbab saya. Kanada adalah negara multikultural dengan masyarakat yang open minded. Mereka sudah terbiasa dengan perbedaan ras, suku, budaya, dan agama. Bahkan, di kota Duncan ini saya banyak bertemu dengan berbagai macam suku bangsa seperti India, Tibet, Cina, Korea, Filipina, dan lain-lain. Ya, Canadian memang saling memahami dan menghormati satu sama lain.

Saya masih ingat pertama kali saya sampai di bandara Internasional Vancouver, saya saat itu masuk ke dalam washroom bersama teman saya. Saya berdiri di depan wastafel, sendirian. Lalu, seorang wanita muda menegur dan bertanya, “ Apa yang kamu pakai di kepalamu?”

Saat itu saya kaget karena tiba-tiba ada orang tak dikenal mengajak saya berbicara. Sempat bengong beberapa saat, lalu saya menjawab, “ Scarf (hijab)”.

Wanita itu tersenyum, “ Oh.. apakah itu salah satu pakaian agamamu?”

Saya pun membalas pertanyaannya dengan ikut tersenyum, “ Iya. Karena saya muslim, saya memakai scarf ini.”

“ Wow. Nice!” dan saya terkaget-kaget dengan balasannya wanita tersebut. Seketika, perasaan saya menjadi senang. Ah… Canadian ini sungguh baik sekali.

Hari-hari pun berlalu, dan saya tetap merasa nyaman dengan jilbab saya. Tidak ada yang menganggu, tidak ada yang mencibir. Alhamdulillah. Bahkan, orang-orang di sini sangat ramah sekali. Ketika berselisih jalan dan bertemu pandang, mereka akan tersenyum dan berkata “ Hai”, “ Hallo”, atau “ Good morning”.

Suatu ketika saya bersama dua orang teman Canadian saya masuk ke sebuah toko buku bekas di downtown. Pemilik toko tersebut menyambut kami dengan ramah, dan ketika dia melihat saya, dia mengucapkan, “ Assalamu’alaykum” sambil memberikan senyuman yang hangat. Duhai Tuhan, saya jatuh cinta pada keramahan masyarakat di sini.

Apalagi, hal yang menjadi perhatian saya adalah ketika bertemu dengan orang yang dikenal, pasti selalu diawali dengan percakapan:

“ Hey! How are you today?”

“ I’m fine, thanks. And you?”

“ Yeah. I’m good too!”

Ini bukan sebuah praktik percakapan Bahasa Inggris di sekolah, tetapi ini adalah kenyataan yang selalu saya temui setiap hari.

Ketika akan pergi, tak lupa mereka mengatakan, “ Have a good day!”

Yah.. ucapan yang bukan hanya sekadar kata bagi saya. Melainkan, sebuah doa dan ini memberikan perasaan hangat di cuaca yang dingin ini, hehe.

Mereka juga tidak pernah pelit untuk melontarkan pujian. Ketika berbincang, mereka tak pernah berhenti memberikan kata, “ Wow!”, “Great!”, “Awesome!” dan kata-kata ajaib lainnya. Bahkan, ketika melihat seseorang mengenakan pakaian yang bagus, mereka tidak sungkan untuk memuji, “ I like your dress. So beautiful” pada orang yang mereka temui di bis sekali pun.

Saya juga pernah mendapat pujian dari orang yang tidak saya kenal, hehe. Orang itu bilang, “ I like your brooch.. so pretty” sambil tersenyum manis. Siapa yang tidak senang?
Bertambah lagi rasa kagum saya pada mereka. Iya, mereka, Canadian adalah orang yang ramah dan penuh dengan apresiasi. Pantas saja warga di sini tampak selalu bahagia dan tersenyum setiap saat.
(Primalita Putri Destina, ICYEP, 2014)