IChYEP 2013

Mira Karina lahir pada 06 Desember 1989 dari pasangan Bahran dan Marnah di sebuah desa kecil di kabupaten Bangka Barat, Terentang. Perempuan berjilbab yang biasa dipanggil Mira ini adalah lulusan program Studi Tadris Bahasa Inggris Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung tahun 2012. Saat ini, ia bekerja di salah satu dinas di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Barat sebagai karyawan honorer. Selain itu, ia juga menjadi volunteer sebagai guru bahasa Inggris di sebuah pesantren baru di Bangka Barat.

Selain bekerja, Mira juga masih aktif di organisasi kepemudaan. Tangal 31 September 2013, bersama Mohammad Fadhilah, Mira mewakili Bangka Belitung untuk program Pertukaran Pemuda Indonesia-China selama sepuluh hari. Baginya program ini sangat luar biasa karena melalui program ini ia bisa menyaksikan langsung bukti peradaban China di masa lalu. Ia juga dapt menyaksikan dan belajar dari cara  masyarakat China menghargai, memaknai dan menjaga situs sejarah dan bagaimana mereka terus memperbaiki diri untuk kemajuan Bangsa.
Jika ingin terkoneksi dengan Mira ada bisa melakukan kontak melalui akun email/facebook mira.karinata@gmail.com, twitter @amirakarin dan blog di amirakarin2@blogspot.com

IKYEP 2013

Pada tahun 2013, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk kedua kalinya mendapatkan kuota program Pertukaran Pemuda Indonesia-Korea Selatan setelah sebelumnya di tahun 2011 Prop. Kep. Bangka Belitung untuk pertama kalinya mendapatkan kuota tersebut.
Delegasi terpilih untuk program tersebut adalah Bella Baroqah. Gadis ini dilahirkan di Tanjungpandan, Belitung pada  12 Juni 1994 dan saat ini ia masih berstatus sebagai mahasiswa Politeknik Negeri Bandung.
Nah, Jika anda tertarik dengan program PPIKor dan ingin berkomunikasi dengannya tentang program ini, silahkan menghubunginya melalui akun Facebooknya : Bella Baroqah

IMYEP 2013

Edwin Dwijaya lahir di sungailiat pada 26 Mei 1988. Setelah menghabiskan masa sekolah di Bangka ia kemudian melanjutkan pendidikan di STBA Methodist Palembang jurusan Sastra Inggris. 
Pemuda yang terpilih sebagai delegasi IMYEP 2013 mewakili Prop. Kep. Bangka Belitung ini aktif dalam organisasi kampus seperti festival budaya Jepang dan student wall magz. Selain itu ia juga pernah menjadi ketua English club di kampus tempat ia menimba ilmu. 

Kemudian, ia juga  pernah menjadi Lokal koordinator Australia – Indonesia Youth Exchange program (AIYEP) yg diadakan di Bangka Belitung pada tahun 2009 – 2010 dan hingga saat ini ia masih sangat tertarik mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kreativitas generasi muda terutama dalam mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. 
Di sisi lain, ia tetap mampu memanajemen semua kesibukannya tanpa meninggalkan sisi akademis. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya menyelesaikan kuliah selama empat tahun dan lulus dengan  predikat  Cumlaude.  
Bagi anda yang ingin berkomunikasi dengannya, anda dapat menghubunginya melalui akun Facebooknya Edwin Dwijaya

Belajar Sampai ke Cina

Oleh: Mohammad Fadhillah

     “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”, begitu kata pepatah arab yang tidak asing bagi saya. Awalnya mungkin hanya sekadar impian namun tanpa saya duga ternyata kesempatan pun itu datang. Saya mengikuti seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) 2013 dan terpilih menjadi salah satu peserta Pertukaran Pemuda Indonesia-Cina dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga sekaligus menjadi delegasi yang mewakili Provinsi Kep. Bangka Belitung dalam acara tersebut.
     Program tersebut diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olah Raga dengan Federasi Seluruh Pemuda Cina (All China Youth Federation). Pada program ini, pemerintah Cina mengundang 100 pemuda Indonesia untuk mengunjungi Cina dari 31 Agustus sampai 9 September 2013 lalu.
  Sebelum bertolak ke Cina, semua peserta program termasuk saya mengikuti pelatihan sebelum keberangkatan (pre-departure training) pada 28-30 Agustus 2013 yang dibuka secara resmi oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga RI, Bapak Roy Suryo. Pada kesempatan itu kami diberikan materi singkat terkait tujuan program, hubungan diplomatik Indonesia-Cina, serta wawasan-wawasan tentang Cina. Satu hal yang baru saya tahu bahwa ternyata khusus dalam bidang diplomatik, Indonesia tidak menggunakan kata Cina untuk menyebut negara Cina, melainkan Republik Rakyat Tiongkok. Namun, dalam bidang-bidang lainnya seperti ekonomi, perdagangan, budaya dan bidang lainnya istilah Cina umum digunakan.
     Kami berangkat ke Cina pada 30 Agustus 2013 dan tampaknya semua peserta tidak sabar untuk segera sampai ke Cina dan Beijing adalah kota pertama yang kami kunjungi di Cina.
     Beijing yang  merupakan Ibu kota negara adalah salah satu kota terpadat di dunia. Di kota ini, kami mengunjungi Museum Perencanaan Kota Beijing, Museum Nasional Cina, Tembok Besar Cina (The GreatWall), Kota Terlarang dan Pusat Multimedia Liga Pemuda Komunis Cina serta beberapa komunitas lainnya. Di Museum Perencanaan Kota Beijing kami diperkenalkan sejarah Kota Beijing dari zaman kekaisaran awal Cina sampai zaman modern serta perencanaan kota ini di masa mendatang. Kami dipertunjukkan tayangan singkat berdurasi 10 menit mengenai sejarah kota Beijing 3000 tahun yang lalu sebagai kota dan 850 tahun yang lalu sebagai ibukota Cina. Selain itu, tayangan lain juga memperkenalkan perencanaan kota Beijing dari tahun 2004 hingga 2020. Beijing merupakan kota dengan luas wilayah 16.807,8 km2 namun hanya sekitar 38 % berupa wilayah yang datar selebihnya merupakan wilayah pegunungan. Selain itu, kota ini merupakan kota kedua yang memiliki populasi terbanyak di Cina setelah Shanghai, dengan jumlah penduduk 20,6 juta jiwa pada tahun 2012. Dengan kondisi demikian, Beijing merupakan kota terpenting di Cina yang memerlukan perencanaan pembangunan yang baik di masa mendatang. Beijing akan dibangun tidak hanya menjadi kota metropolitan di Cina, namun menjadi kota yang ramah lingkungan dan tetap layak untuk dihidupi oleh rakyat Cina.
     Kota berikutnya adalah Hefei dan Wuhu di Provinsi Anhui. Di kota tersebut kami berkesempatan berdiskusi dengan mahasiswa di Universitas Anhui lalu berkunjung ke Museum Provinsi Anhui. Selain itu, kami juga diundang untuk mengunjungi perusahaan iFLYTEK yang bergerak di bidang teknologi suara. Produk dari perusahaan tersebut sudah banyak digunakan pada perangkat ponsel dan mobil di Cina. Perusahaan lain yang kami kunjungi adalah Chery Automobile yang bergerak di bidang otomotif khususnya kendaraan mobil.
     Lalu, kota terakhir kami singgahi adalah Guang Zhou. Di kota ini, kami diajak untuk melihat aktivitas anak-anak di Istana Anak ke-2 di Guang Zhou. Aktivitas anak-anak di tempat ini sangat beragam, tergantung kelas yang mereka pilih. Ada kelas kung fu, musik, tari dan lainnya. Tidak lupa pula, di kota terakhir ini kami juga diajak untuk mengunjungi museum kebanggaan provinsi Guang Zhou.
     Ada beberapa hal yang mungkin dapat saya ambil pelajaran dari program ini yang diantaranya adalah kesimpulan tentang Cina yang merupakan negara dengan sejarah dan peradaban yang panjang. Peninggalan sejarah dan kebudayaan merupakan aset penting suatu negara dan itu diperlihatkan oleh Cina dengan kesungguhan dalam pengelolaannya. Dari beberapa musem yang kami kunjungi, saya selalu menemukan kemegahan dan kerapihan dalam tiap sisinya. Tidak ada kesan “jadul” (baca: zaman dulu) di museum-museum tersebut karena dipadu dengan berbagai teknologi informasi dan animasi modern yang melengkapi setiap museumnya. Rasanya, sebagian besar sejarah bangsa mereka sudah tersimpan baik dan dapat kembali dipelajari dengan mudah oleh generasi-generasi selanjutnya. Disanping itu, saya belajar bahwa Cina juga termasuk negara yang memiliki perhatian dengan teknologi. Hal ini terlihat dari teknologi transportasi dan komunikasi yang ada seperti kereta cepat Cina dan perusahaan mobil nasional.
     Di sisi lain, saya juga kagum dengan kegiatan kepemudaan di Cina. Cina memiliki perhatian yang baik terhadap generasi mudanya baik pemuda maupun anak-anak. Pemuda Komunis di Cina memiliki kantor pusat multimedia yang mengelola berbagai website antara lain website anak-anak seperti youth.cn dan k618.cn. Kedua situs tersebut memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan seputar kepemudaan dan anak-anak. Karena itu, jika dilihat dari kondisi tempat dan fasilitas pusat informasi ini, Cina sangat memberikan perhatian besar terhadap anak-anak dan pemuda. Pemerintah Cina berusaha memberikan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan jenjang umur generasi mudanya. Fasilitas yang lengkap membuat pengelolaan pusat informasi dan multimedia ini sangat profesional, oleh karenanya  output berupa informasi-informasi yang dihasilkan juga sangat baik.
     Saat ini, tak dipungkiri, Cina memang negara yang besar bukan hanya dari jumlah penduduk, peradaban, namun juga di bidang ekonomi dan perdagangan. Cina juga merupakan salah satu negara yang mempunyai hubungan erat dengan Indonesia dalam bidang ekonomi, budaya, dan sejarah. Tak heran jika di abad 21 ini, Cina terlihat semakin mengokohkan dirinya menjadi satu kekuatan ekonomi dan politik baru di dunia.
Akhirnya, bagi saya belajar memang bisa didapatkan dari banyak hal dan saya juga belajar banyak hal dari sebuah negara berna Republik Rakyat Cina.
*Penulis adalah Delegasi PPIC 2013

Get ready for PPAN dan SSEAYP 2014!

Apa sih enaknya hidup ini kalau cuma ada yang enak-enaknya saja? Rosalina tahun 2013 lalu mendapatkan kesempatan untuk berlayar bersama the super ship-Nippon Maru, kapal pesiar Jepang yang membawa 330 pemuda dari 10 negara Asean dan Jepang. Bertolak dari pelabuhan Haneda Tokyo, SSEAYP 2013 kemudian mengarungi Laut Cina Selatan menuju Ho ChinMin City-Bangkok-Singapura-Manila-Okinawa- hingga akhirnya kembali ke Tokyo.
Ini bukan tentang jalan-jalan gratis. Bukan tentang pamer foto. Ini tentang seberapa besar kebanggaan mewakili bangsa yang besar ini, Indonesia, diantara bangsa-bangsa lain. Ini tentang kesmepatan emas untuk tidak hanya bertemu namun menjadi saudara dengan pemuda pemudi dari 10 negara tetangga. Ini kesempatan istimewa untuk tinggal dan memiliki orang tua angkat di setiap negara dan yang paling penting, ini adalah peluang untuk menjadi berani  dalam mewujudkan mimpi karena tidak ada mimpi yang tidak pantas diperjuangkan. Tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan.
Follow twitter @pcmibabel, fb PCMI Kepulauan Bangka Belitung serta blog http://pcmibabel.blogspot.com/ untuk informasi pertukaran pemuda ke Korea, Kapal Pemuda Asia Tenggara – Jepang, Kanada, Australia, Malaysia 2014. This is your year!

SSEAYP 2013

Rosalin adalah mahasiswa program profesi dokter pada saat mengikuti seleksi program pertukaran pemuda antar negara Kapal Pemuda Asia Tenggara Jepang (SSEAYP) 2013.

Dalam pandangan orang awam, jalan hidup seorang mahasiswa kedokteran seperti sudah tergaris dengan jelas. Belajar, tamat menjadi dokter dan bekerja di salah satu rumah sakit hebat. The life then seems so perfect! Menjadi dokter (mahasiswa kedokteran) seperti mendapat kontrak kalender hitam di 365 hari sejak mulai melangkah ke fakultas kedokteran hingga akhir hayat. Namun, gadis ini yakin ada banyak hal yang masih ia bisa lakukan meskipun gambaran itu mulai jelas terlihat. Baginya, tak ada mimpi yang terlalu besar untuk diwujudkan!

Jika ingin berkomunikasi dengannya, bisa melalui akun Facebooknya : Rosalin Ma’ruf

Tentang Haechi, Hanji dan Hanok serta Hanbok

Oleh: Dio Andespa Putrika Dewi

Korea Selatan: K-pop wave, K-drama???

 Bagi saya yang bukan pencinta K-pop dan tidak terlalu menggandrungi K-drama, Daehan Minguk adalah sebuah negara kecil yang berhasil menyandingkan nilai budaya dan sejarah lokal klasik dengan moderenitas berteknologi tinggi hingga kemudian dikenal luas di dunia saat ini. Maka, dalam pandangan saya K-pop dan K-drama hanyalah dua jenis media yang digunakan untuk lebih mengenalkan Korea Selatan ke dunia internasional yaitu melalui musik dan dunia perfilm-an apalagi karena sejauh ini saya hanya menyukai Dae Jang Geum/Jewel in the palace sebagai drama Korea yang paling berkesan dari sisi ekplorasi budaya dan sejarah Korea serta Full House dan Winter Sonata dari sisi sweet-love story dan eksplorasi tempat-tempat iconic yang diangkat. Karena itulah, saya dengan yakin akan selalu mengatakan bahwa Korea Selatan jauh lebih menarik dari sekedar K-pop dan K-drama. 
Beberapa hal sederhana yang sarat makna yang saya temukan sebagai ‘oleh-oleh’ selama mengikuti program IKYEP 2011 lalu adalah usaha dan kedisiplinan orang-orang Korea Selatan menjaga budaya negara mereka. Beberapa diantaranya terekam melalui ke-empat hal di bawah ini. 

Haechi, mitologi bernilai estetik

Chonggyechoen stream adalah salah satu bukti nyata keberhasilan pemerintah Kor-Sel mengahdirkan lahan terbuka bagi warga Seoul khususnya dengan menerapkan kebijakan –yang awalnya kontroversial- tentang normalisasi sungai yang membelah Seoul tersebut. Tapi, tahukah anda bahwa selain sejarah Chonggyechoen stream yang juga merupakan bagian dari upaya serius pemerintah dalam usaha melestarikan lingkungan, sebuah patung boneka kuning yang terlihat imut dan lucu juga menjadi daya tarik tersendiri
Mungkin tak banyak wisatawan yang tahu bahwa boneka dengan mata jenaka dan hidung cokelat itu adalah Haechi, maskot yang dipilih mewakili Seoul sebagai mascot-brand yang diharapkan akan mendunia seperti halnya Lady Liberty-nya New York atau Eiffel-nya Paris. Haechi yang merupakan karakter Mitologi menyerupai singa namun sejatinya adalah anjing pemakan api dianggap sebagai penjaga Seoul dari kebakaran, bencana alam dan kejahatan. Haechi juga dianggap sebagai simbol dari keadilan dan keberuntungan. Lebih dari itu, karakter Haechi yang digambarkan berwajah lucu dan menggemaskan ini juga dinilai memiliki nilai estetika tersendiri bai Seoul. Maskot ini sangat Seoul-sekali!
Well, jika membahas Haechi dan sayembara yang dilakukan sebelum akhirnya Haechi dipilih sebagai maskot, saya sempat berfikir mengapa Jakarta (pemerintah ketika itu) justru memilih Monas yang merupakan representasi dari Lingga dan Yoni? Ditambah lagi keberadaan Monas yang lokasinya justru tak jauh dari Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta?  Lalu, saya juga sempat pernah bertanya dalam hati “kapan ya kali Ciliwung menjadi seindah Chonggyechoen stream?”

Hanok dan Hanji, preservasi klasik tentang jati diri

Ketika berusia 14 tahun saya pernah keranjinganberkirim surat ke beberapa kedutaan asing yang ada di Jakarta untuk sekedar mengharapkan informasi tentang negara-negara tersebut, maka ketika itu saya banyak mendapatkan balasan berupa brosur dan leaflet bahkan kamus saku bahasa asing negara-negara tersebut. Saya lalu memiliki angan untuk mengabadikan suasana musim gugur dengan daun-daun kuning dan merah berjatuhan diatas saya. Sederhana memang, namun bagi saya impian itu eksotis!
Kemudian, di Jeonju Hanok Village mimpi masa kecil itu terwujud, tunai! Senangnya hati saya saat itu tak terperikan setelah sebelumnya tidak mendapatkan momen tersebut ketika masa tinggal singkat saya di Amerika  selesai.
Saat menyusuri Hanok Village dengan segala keunikan interior dan eksterior yang ada, pengunjung pasti akan sangat menikamati area ini, bahkan saya merasa terbawa ke zaman dinasti Joeson dulunya seperti scene-scene yang saya lihat di film Dae Jang Geum. “duhai! apik sekali” batin saya saat itu.

Hanok village adalah bentuk kepedulian pemerintah dan masyarakat Korea Selatan terhadap budaya yang kemudian ditampilkan pemerintah setempat dalam proyek pembangunan arsitektur rumah tradisional Korea yang mengesankan, apik  dan bercita rasa klasik-modern yang elegan. Hal ini dilakukan demi melestarikan rumah tradisional Korea dan proyek ini kemudian mampu menjadi atraksi wisata yang sangat memukau. Ditunjang dengan sarana prasarana yang tetap memanfaatkan hanok sebagai bangunan utama, toko-toko souvenir, galeri seni, handycraft house, café bahkan gang-gang kecil yang bisa anda jelajahi akan terasa sangat kental dengan nuansa Korea tempo dulu apalagi jika dipadukan dengan gemericik air yang dilengkapi dengan kincir air kayu. Love it!
Tapi tunggu dulu! Hanok village tak hanya mengahdirkan nuansa romantic tempo dulu dengan kehadiran puluhan Hanok yang ada. Saat itu, ketika melihat-lihat galeri handycraft setelah puas berhasil membuat Hand Mirror, saya melihat gulungan kertas warna-warni dipajang di toko tersebut. Yeseul Seo, penerjemah kami selama program berlangsung, menjelaskan bahwa kertas-kertas itu adalah hanji.
Hanji terbuat dari chomok, kulit kayu mulberry, dan memakan waktu yang lama dalam proses pengerjaannya dan juga sangat rumit sampai kemudian dapat digunakan untuk beragam keperluan rumah tangga dan even-event tradisional, termasuk digunakan sebagai kertas pelapis pintu atau jendela di dalam hanok. Karena nilai seni tinggi ditambah lagi proses pengerjaan yang rumit dan lama dan juga bahan baku pilihan yang harus dipilih secara sangat selektif inilah pemerintah Korea Selatan sangat protektif dalam menjaga kelestarian tradisi pembuatan hanji.
Bagi saya hanji dan hanok adalah sejoli yang tak dapat dipisahkan. Hanji dan hanok adalah bentuk kearifan orang Korea zaman dahulu yang hingga sekarang dapat dilestarikan di Korea dengan baik.
Andai kita dan juga pemerintah (daerah dan pusat) mengembangkan terobosan-terobosan baru agar lebih mampu menjaga dan melestarikan budaya kita, maka dengan promosi serta penanganan yang lebih baik dan tepat dari yang telah ada sebelumnya, macam-macam kertas berbahan kulit kayu di Nusantara semacam Lantung dari Bengkulu, Tapa dari Kalimantan Tengah atau kertas Lontar dan Daluang di Jawa dan juga rumah-rumah tradisional yang ada di setiap daerah di Nusantara, kekayaan Indonesia ini pasti akan lebih dikenal dan berkembang serta mampu menjadi daya tarik wisata budaya seperti halnya hanok dan hanji-nya Korea Selatan.  

Hanbok, busana yang sangat “ketimur-an”

Hanbok!
Ketika di Korea saya sangat ingin mencoba mengenakan Hanbok sebagai upaya menjawab rasa penasaran saya tentang apa jadinya jika jilbab berpadu dengan Hanbok. Maka ketika momen itu saya dapatkan, hasilnya, serasi!
Setelah belajar melakukan Sebae (cara penghormatan yang dilakukan masayarakat Korea), dan menyantap camilan khas Negeri Ginseng, seorang ibu petugas di Korean National Art Museum menjelaskan tentang Hanbok dan mengizinkan kami memilih Hanbok yang kami sukai. Ia menjelaskan bahwa Hanbok tak hanya tentang berpakaian, namun mengajarkan tentang filosofi kesopanan dalam berbusana kepada generasi muda Korea. “Unlike Japanese and Chinese costume, Hanbok is loose gown so it wouldn’t shape your body but it is still graceful and pretty”. Lalu sang ibu membantu saya mengenakan Hanbok yang ia pilih agar warnanya serasi dengan jilbab hitam saya ketika itu.  
Hanbok mengajarkan saya tentang feelke-timuran yang lebih terasa dibandingkan beberapa pakaian daerah Indonesia. Dari sudut pandang ini, harus diakui bahwa dalam beberapa hal negara kita yang mayoritas berpenduduk Muslim ini ternyata belum se’timur’ beberapa negara lainnya di dunia dan Korea Selatan ternyata memiliki sisi ‘ketimur-an’ tersebut  yang salah satunya hadir dari filosofi Hanbok. 

*Penulis adalah delegasi IKYEP 2011 

 

IChYEP 2013

Tahun 2013 ini, Provinsi Bangka Belitung untuk pertama kalinya mendapat kuota untuk Pertukaran Pemuda Indonesia-Cina dan Mohammad Fadhillah adalah sosok pemuda yang terpilih sebagai salah satu dari 2 delegasi IChYEP 2013.  Pemuda yang akrab disapa Fadhil ini dilahirkan di Kelapa Kampit Belitung, 13 Juni 1992 silam. Ia merupakan alumni Institut Pertanian Bogor.
Dirinya  bersyukur sekali karena mendapat kesempatan untuk belajar ke Cinayang selaras dengan pepatah “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”.  Pemuda yang tergolong aktif di sosial media ini dapat dikonatk untuk berkomunikasi dengannya atau bertanya terkait program melalui akun Facebooknya Mohammad Fadhillah atau di blognya.